Adbox

Dec 28, 2014

Jangan Tunggu Waktu Untuk Jelajah Bumi Aceh

December 28, 2014
Kamu seorang wisatawan atau istilah kerennya traveler? Sudah menginjak bumi Aceh belum? Jika kalian sudah pernah “syukurlah,” mudah-mudahan kalian berpendapat Aceh menjadi tempat yang ramah dan puas untuk dijelajahi. Tapi jika belum pernah dan berkeinginan menjelajahinya, aku berani berkata “bumi Aceh pantas untuk kalian tulis di deretan nama-nama tempat yang ingin kalian tapaki.” Selain panorama alam yang bisa memanjakan mata traveler, Aceh juga menyajikan wisata kuliner dan budayanya yang masih sangat kental.

Kebanyakan para traveler dominan memilih pantai-pantai di Aceh, seperti Sabang, Lhok Nga, Lampu’uk. Itu cuma beberapa contoh pantai yang banyak di kunjungi traveler dan masih banyak pantai-pantai lain yang juga menjadi pilihan wisatawan ke Aceh. Memang tidak diragukan keindahan pantai-pantai Aceh. Pesona bawah laut yang sangat beragam membuat wisatawan  berdecak kagum, itu terbukti dari wisatawan lokal dari Indonesia sendiri dan juga dari mancanegara yang betah untuk liburan dipantai Aceh. Tidak kalah keren juga diatas permukaan laut yang menyajikan berbagai kekaguman. Apalagi setelah musibah tsunami menerjang Aceh, Surving juga telah menjadi olahraga yang trend di pantai Lhok ‘nga untuk menikmati ombak yang mengalun berirama di hamparan laut.

Tapi aku disini sebagai manusia yang hobi mendaki gunung menyarankan kepada traveler untuk tidak mengabaikan pesona Gunung-gunung disini. Keindahan dan keberagaman ekosistem dibelantara hutan Aceh tidak kalah dari laut. Bahkan pegunungan dan hutan Aceh menjadi objek penelitian ilmuan-ilmuan muda dari berbagai penjuru dunia.  “Menikmati pesona dari atas ke bawah lebih puas dibandingkan dari bawah ke atas” begitulah prinsipku sebagai seorang pendaki yang amatiran. Mata akan biasa saja saat melihat gunung dari pantai, tapi jika kamu melihat pantai dari ketinggian puncak-puncak gunung “wow amazing” begitulah lebih kurang yang akan terjadi ekspresinya.

Memilih pegunungan Aceh seperti Leuser, Burni Telong, Klieten, Seulawah Agam, Glee Raja tidak akan membuat suasana traveler anda kecewa. Itu beberapa gunung yang bisa aku sebutkan disini, masih banyak gunung-gunung lainnya yang berjejeran di Aceh untuk anda nikmati.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id

Pesan dari aku, apapun pilihan tempat kita berwisata ikutilah aturan budaya dan adat serta hukum yang berlaku didaerah tujuan wisata. Tetap jaga kelestarian alam dengan tidak membuat tempat tujuan anda cacat oleh ulah kita manusia, hal yang paling kecil adalah jangan pernah buang sampah sembarangan baik itu di laut, gunung, hutan, sumber air, walaupun disekitar-kita penuh sampah, buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan. Alam sebagai tempat tinggal seluruh makhluk hidup jangan hancur hanya untuk kita menikmatinya. Biasakan yang benar dan jangan benarkan yang biasa.

Dec 16, 2014

Jaga Lingkungan dan Alam sekitar Mulai Sekarang

December 16, 2014
Bencana alam yang akhir-akhir ini meneror bumi Indonesia telah menimbulkan keresahan hati masyarakat Indonesia, simiskin,fakir bahkan sikaya-raya pun tak luput dari perasaan takut. Yang tinggal di pinggiran gunung takut akan longsor, dan yang tinggal di tengah-tengah kotapun takut akan banjir yang melanda. Apalagi beberapa hari yang lalu ditanah Jawa telah terjadi longsor yang memakan korban tidak sedikit.

Saat bencana disorot oleh media dan dipertanyakan penyebab bencana alam, pemerintah dan masyarakat juga selalu saling menuding sebab terjadinya bencana. Pemerintah mengatakan “masyarakat tidak mengindah peringatan pemerintah tentang akibat ini-itu hingga terjadi bencana alam.” Sedangkan masyarakat mengatakan “ kurangnya perhatian dan kontribusi pemerintah untuk memprogramkan peminimalisir terjadinya bencana alam.” Setelah sekian banyak bencana yang melanda bumi indonesia. Sadar atau tidak, pemerintah dan masyarakat kita hanya kebakaran jenggot saat dan setelah beberapa hari atau bulan bencana melanda. Sibuk menanam pohon di bukit-bukit dan tanah yang sudah gundul dan membersihkan sampah-sampah disungai, tapi setelah itu kembali kita mengabaikan dan lupa apa yang harus kita lakukan untuk meminimalisir dan mencegah bencana itu terulang kembali.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/12/jaga-lingkungan-dan-alam-sekitar-mulai.html

Perlu kita sadari saling menuding dan menyalahkan tidak akan pernah mengakhiri dan menjauhkan kita dari bencana alam yang memporak-porandakan negeri ini. Hanya akan memperlambat kesadaran untuk menjaga lingkungan kita sendiri. Pernahkah kita menanyakan pada hati kita masing-masing. Tanggung jawab siapa lingkungan ini? Siapa yang merasa dampak baik dan buruknya dari keadaan lingkungan sekitar kita? Aku yakin semua jawaban yang kita temukan “bukan pemerintah atau masyarakat” tapi “kita.” Nah, dari jawaban hati kita masing-masing, masihkah kita berharap pemerintah atau masyarakat yang akan menjaga lingkungan ini?

Menebang pohon secara liar, membuang sampah sembarangan, membuka area perkebunan secara membabi buta hingga tiada lagi hutan penghasil oksigen untuk manusia, pembangunan dengan alasan memajukan ekonomi  secara berlebihan hingga harus mengorbankan pepohonan-pepohonan yang menjadi penyangga air dan megabaikan kebutuhan rakyat kelas bawah adalah beberapa sebab yang akan mengakibatkan bencana alam. jika menanyakan kepada masyarakat “kenapa menebang pohon,membuka perkebunan secara liar,membuang sampah sembarangan?” jawabannya tidak kita sangsikan lagi “tidak ada pilihan lain mencari nafkah untuk menghidupi keluarga atau itu satu-satunya lapangan kerja yang bisa  didapatkan.” Ya, itu jawaban yang sangat sering terlontar dari masyarakat atau pemerintah. Tidak bisa kita salahkan untuk menunaikan keharusan manusia menyamankan perut demi menyambung hidup. Itu kebutuhan yang tidak bisa kita hindarkan. Tapi menjaga lingkungan sebagai kewajiban tidak bisa banding-bandingkan dengan kebutuhan. Karena kebutuhan manusia selalu tidak akan cukup dan puas.

Sebenrnya lingkungan tidak memerlukan program-program khusus untuk kelestariannya. Lingkungan juga tidak butuh perawatan khusus seperti perawatan wajah-wajah artis nasional atau dunia untuk menjadi indah dan aman untuk kita lihat dan kita huni. Kita hanya perlu menjaga lingkungan kita seperti apa adanya untuk mencegah bencana alam. Mengurangi penghasilan sampah yang tidak terurai seperti plastik, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pepohonan sembarangan yang menjadi penyangga air. apakah kita sebagai penikmat segala yang ada dilingkungan ini sulit melakukannya? Anak kecil juga mampu melakukan hal seperti itu, generasi sebelumnya dan nenek moyang kita mampu menjaganya, kenapa kita tidak.

Pemerintah juga harus siap mendidik masyarakatnya dari sejak dini dengan ilmu-ilmu pengetahuan baik alam dan sosial hingga melahirkan masyarakat yang kreatif dalam mengurus urusan perut dan kebutuhan tanpa harus merusak lingkungan lagi. Pemerintah harus mampu membuka lapangan kerja yang lebih layak bagi rakyatnya. Memang bukan hal mudah seperti membalikkan telapak tangan bagi pemerintah, tapi bukankah itu merupakan bagian dari tugasnya dalam mengelola birokrasi negri?
Belajar dari pengalaman bencana alam yang sudah kita alami.  Pemerintah dan masyarakat jangan lagi kecolongan dengan bencana alam. Ubah perilaku hidup, kepentingan politik, ekonomi yang merusak lingkungan. Mari kita lestarikan alam dengan kesadaran kewajiban dan kepentingan individual. Bukan aku, kamu dan dia atau mereka, tapi untuk kita sendiri.

Pembangunan dan investasi memang perlu untuk memajukan ekonomi sebuah negara tapi jangan membuat pembangunan dan investasi mengabaikan lingkungan dan kebutuhan rakyat kelas bawah. Seimbangkan antara pembangunan-pembangunan, mensejahteraan masyarakat terutama kelas bawah, pendidikan yang memadai dan lapangan kerja yang cukup serta pelestarian lingkungan sekitar kita. Pemerintah dan masyarakat saling mendukung untuk menjaga lingkungan hingga alam ini tetap lestari, lingkungan terjaga dan masyarakat damai dan jauh dari ancaman bencana alam.


Dec 5, 2014

Sampah Sigli versus Sampah Denmark

December 05, 2014
Saat kita mendengar atau melihat kata “Sampah” secara alamiah kita pasti langsung bisa terbayangkan “kotor, menjijikkan, jorok atau apalah yang serupa dengan kata itu.” Bahkan manusia yang tidak bermoral atau berkelakuan mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat juga disebut sampah masyarakat. Dan disini aku menyimpulkan sampah adalah sesuatu yang sudah tidak digunakan lagi dan dibuang serta bisa menganggu kenyamanan manusia bila tidak dikelola secara baik. Bahkan tempat yang sangat indahpun jika dipenuhi dengan sampah akan sangat tidak enak untuk dilihat apalagi kita jadikan sebagai tempat tinggal untuk menyambung hidup.

Di negara-negara maju sampah sudah dikelola dengan baik. Pemerintah dan masyarakat saling mengerti untuk mengurus sampah. Sampah tidak dianggap sebagai hal yang sepele untuk di urus oleh pemerintah. Jika kamu seorang traveling mungkin kamu akan melihat perbedaan yang sangat jauh kebersihan kota-kota di negara maju dengan kota di indonesia.

Pernah kamu dengar atau singgah di Kopenhagen? Ya, Kopenhagen adalah ibukota Denmark. Kota yang selalu dipadati manusia. Baik itu warga Denmark sendiri ataupun turis atau pengunjung dari berbagai pelosok dunia termasuk indonesia. Walau selalu menjadi lautan manusia, tidak kita temukan tumpukan atau sampah yang berserakan di kota tersebut. Ini jauh berbanding balik dengan keadaan kita Sigli yang dipenuhi tumpukan sampah tengah kota  bahkan dipinggir jalan pun tidak jarang kita melihat tong sampah yang sudah tidak layak pakai dengan sampah yang bertebaran didalam dan sekitarnya. Padahal penghuni Sigli juga manusia seperti di Kopenhagen. Malah jika dijumlahkan, pengunjung manusia di Kopenhagen lebih didominasi jumlahnya dibandingkan sigli.

Apa yang membuat sigli lebih berserakan dibandingkan Kopenhagen? Apakah sigli kota kecil sedangkan Kopenhagen kota besar? Jika kita berpikir secara rasional, bukankah semakin kecil wilayah yang kita urus semakin mudah dalam mengelolanya?

Semalam aku sempat bertukar informasi tentang keadaan lingkungan dengan seorang teman melalui Facebook yang aku panggil kak Cinta. Beliau berasal dari Sigli tapi sekarang menetap di Denmark.  Dan aku berpendapat “Kopenhagen dan Sigli merupakan kota yang sama-sama dihuni oleh manusia.” Yang menjadikan beda antara kebersihan lingkungan Sigli dan Kopenhagen adalah kesadaran penghuninya sendiri dan Perhatian khusus pemerintah untuk menjaga lingkungan kota dari sampah.

“Disini dek, tempat untuk memasukkan barang-barang belanjaan seperti kantong plastik harus berbayar, beda dengan tempat kita di Sigli. Beli satu sikat gigi saja, kita meminta kantong plastik ataupun juga penjualnya dengan ramah menawarkan kantong plastik tempat menaruh barang belanjaan kita. Itu dengan sendirinya bisa kita lihat perbedaan yang sangat mencolok tanpa kita sadari. Di Sigli sampah dihasilkan dengan mudah tanpa biaya tapi di Denmark untuk menghasilkan sampah harus mengeluarkan biaya,” jelas kakak Cinta dengan ramah. “selama kakak disini tidak pernah kakak lihat orang membuang sampah sembarangan tanpa rasa bersalah, Pemerintahpun menyediakan tong sampah yang layak ditempat-tempat keramaian dan tidak pernah kita lihat penuh tong-tong tersebut dari sampah yang dibuang masyarakat apalagi meluap keluar. Pemerintah kota secara berkala mengurusnya,” kak Cinta menambahkan.

Saat aku mencoba menanyakan tentang sampah-sampah yang dihasilkan rumah tangga, kak Cinta juga mengutarakan hal yang sama. “Masyarakat disini sadar tanggung jawab dia sebagai penghasil sampah dan membayar biaya kepada yang mengurus sampah tersebut” dan  kak Cinta juga menambahkan “sebelum diserahkan pada mereka yang mengurus, sampah terlebih dahulu dipilah-pilah menurut jenisnya. Sampah organik dan an-organik tidak dalam satu tempat yang sama, bahkan sampah plastik, kaca, besi juga di masukkan dalam tempat yang berbeda.”

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/12/sampah-sigli-versus-sampah-denmark.html

Di Sigli tidak pernah kita lihat sebegitu teratur masyarakat memperlakukan sampah-sampah yang dihasilkannya hingga diserahkan kepada petugas yang bertugas mengurus sampah tersebut. Keadaan ini menyatakan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan di negara maju lebih tinggi dibandingkan disigli. Dan itu tidak terjadi secara otodidak pada masyarakat, tapi tingginya perhatian pemerintah setempat untuk memberi pengertian kepada masyarakat dalam mengelola lingkungan, baik itu secara peraturan atau lewat pendidikan. Beda dengan di daerah kita, dengan kondisi masyarakat yang masih minim kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan, pemerintahpun terlihat acuh tak acuh dalam mesosialisakannya,bahkan tidak terlihat serius menanggapi pengelolaan sampah-sampah. Itu juga terlihat dari masih banyak tong-tong sampah yang sudah tidak layak pakai masih berjejeran di emperan jalan.


Dengan Kopenhagen bisa menjaga lingkungannya, sigli juga bukan tidak mungkin melakukannya.  Jika masyarakat dan pemerintah mau bertanggung jawab  dalam menjaga lingkungan sekitar dan pengelolaan sampah yang benar serta memberi pendidikan, pengetahuan kepada masyarakat yang serius akan membantu membersihkan lingkungan sigli dari sampah. 
Adbox