Adbox
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Dec 29, 2015

KECEMASAN: TIGA PRINSIP KONSERVASI YANG TERLUPAKAN

December 29, 2015
Tahun ke tahun terus berlalu, hingga tulisan ini menjadi sebuah dokumentasi akan fenomena yang diperbuat oleh penghuni bumi. Ketakutan akan hilangnya para Pecinta Alam, adalah alasan pribadi yang meyakinkan penulis untuk menjadikan tulisan ini sebagai perasaan yang harus dibagikan kepada rekan pembaca.

Sadar atau tidaknya, atas nama cinta Lingkungan/Alam, dan atas nama wujud perasaan cinta itupun keadaan bumi semakin miris. Sampah menjadi hal yang sangat mudah dijumpai di hutan dan di gunung-gunung. Semenjak kegiatan alam bebas seperti mendaki gunung, menjelajah hutan, mengunjungi air-air terjun, hingga menelusuri goa dan mengarungi jeram jadi trend dikalangan umum, air, tanah, hutan dan tersebutnya bumi semakin terjepit akan pelestariannya.

Rupiah memang mampu menghasut hingga membutakan mata hati dan mengelabui akal sehat manusia. Terapan- terapan Ekowisata telah dijadikan lumbung penghasil rupiah-rupiah, tanpa peduli bagaimana pengelolaan secara benar untuk menjadi sekolah yang mengajari hamba-hamba Tuhan menjaga dan mensyukuri nikmat keindahan Alam semesta.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/

Dari analisa secara amateur, dugaan penulis akan sebab fenomena tersebut, prinsip konservasi yang mulai tidak dijadikan materi utama untuk diajari dan dipelajari oleh para penikmatnya.

Dari keadaan miris ini, para Pecinta Alam yang masih mengakui ke eksis-an nya dibidang petualangan dan pelestarian lingkungan sudah seharusnya tetap bersuara dengan kreatifitasnya, serta bertindak secara nyata. Mungkin jadi 'Pemulung' adalah salah satu aksi kecil yang tidak buruk untuk menyelamatkan bumi dari ancaman keberingasan fenomena trend. Bahkan, menjadi penebar senyum bodoh, sangat mulia, sambil terus mengingatkan akan sesama, tiga prinsip konservasi ini;

  •        Jangan ambil sesuatu kecuali foto.
  •         Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak.
  •      Jangan bunuh sesuatu kecuali waktu.

-
Dari sejak sebelum fenomena trendMy Trip, My Adventure”, juga tidak ada larangan untuk menikmati dan mengujungi surga-surga titipan Tuhan didunia ini. Namun sebenarnya tiga prinsip yang mulai disepelekan tersebut, mengajari dan mengingatkan para hamba Tuhan, akan tugas menjaga bumi yang seharusnya bersifat titipan untuk cucunya kelak.

#024_Mountaineer

Jul 11, 2015

Pecinta Alam

July 11, 2015
Kamu menyandang status sebagai Mahasiswa/siswa Pecinta Alam? Berbanggalah, karena kamu pernah melewati proses penddididikan yang tidak bisa dibilang mudah. tidak semua orang mampu bahkan belum tentu mau mengikuti proses tersebut.

Mungkin orang berpendapat: Apa susahnya hanya menjadi seorang Pecinta Alam. Modal mendaftar diri di organisasi-organisasi pecinta alam yang sudah tersebar hampir semua kampus bahkan sekolah-sekolah di Indonesia. Kemudian ikut proses pendidikannya. Beberapa orang berpikir Mahasiswa Pecinta Alam itu adalah segerombolan ‘serdadu’ mahasiswa/siswa yang hanya punya hobi mendaki gunung, arung jeram, menelusuri gua ataupun panjat tebing. Memang tidak sepenuhnya salah pemikiran itu.

Dec 16, 2014

Jaga Lingkungan dan Alam sekitar Mulai Sekarang

December 16, 2014
Bencana alam yang akhir-akhir ini meneror bumi Indonesia telah menimbulkan keresahan hati masyarakat Indonesia, simiskin,fakir bahkan sikaya-raya pun tak luput dari perasaan takut. Yang tinggal di pinggiran gunung takut akan longsor, dan yang tinggal di tengah-tengah kotapun takut akan banjir yang melanda. Apalagi beberapa hari yang lalu ditanah Jawa telah terjadi longsor yang memakan korban tidak sedikit.

Saat bencana disorot oleh media dan dipertanyakan penyebab bencana alam, pemerintah dan masyarakat juga selalu saling menuding sebab terjadinya bencana. Pemerintah mengatakan “masyarakat tidak mengindah peringatan pemerintah tentang akibat ini-itu hingga terjadi bencana alam.” Sedangkan masyarakat mengatakan “ kurangnya perhatian dan kontribusi pemerintah untuk memprogramkan peminimalisir terjadinya bencana alam.” Setelah sekian banyak bencana yang melanda bumi indonesia. Sadar atau tidak, pemerintah dan masyarakat kita hanya kebakaran jenggot saat dan setelah beberapa hari atau bulan bencana melanda. Sibuk menanam pohon di bukit-bukit dan tanah yang sudah gundul dan membersihkan sampah-sampah disungai, tapi setelah itu kembali kita mengabaikan dan lupa apa yang harus kita lakukan untuk meminimalisir dan mencegah bencana itu terulang kembali.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/12/jaga-lingkungan-dan-alam-sekitar-mulai.html

Perlu kita sadari saling menuding dan menyalahkan tidak akan pernah mengakhiri dan menjauhkan kita dari bencana alam yang memporak-porandakan negeri ini. Hanya akan memperlambat kesadaran untuk menjaga lingkungan kita sendiri. Pernahkah kita menanyakan pada hati kita masing-masing. Tanggung jawab siapa lingkungan ini? Siapa yang merasa dampak baik dan buruknya dari keadaan lingkungan sekitar kita? Aku yakin semua jawaban yang kita temukan “bukan pemerintah atau masyarakat” tapi “kita.” Nah, dari jawaban hati kita masing-masing, masihkah kita berharap pemerintah atau masyarakat yang akan menjaga lingkungan ini?

Menebang pohon secara liar, membuang sampah sembarangan, membuka area perkebunan secara membabi buta hingga tiada lagi hutan penghasil oksigen untuk manusia, pembangunan dengan alasan memajukan ekonomi  secara berlebihan hingga harus mengorbankan pepohonan-pepohonan yang menjadi penyangga air dan megabaikan kebutuhan rakyat kelas bawah adalah beberapa sebab yang akan mengakibatkan bencana alam. jika menanyakan kepada masyarakat “kenapa menebang pohon,membuka perkebunan secara liar,membuang sampah sembarangan?” jawabannya tidak kita sangsikan lagi “tidak ada pilihan lain mencari nafkah untuk menghidupi keluarga atau itu satu-satunya lapangan kerja yang bisa  didapatkan.” Ya, itu jawaban yang sangat sering terlontar dari masyarakat atau pemerintah. Tidak bisa kita salahkan untuk menunaikan keharusan manusia menyamankan perut demi menyambung hidup. Itu kebutuhan yang tidak bisa kita hindarkan. Tapi menjaga lingkungan sebagai kewajiban tidak bisa banding-bandingkan dengan kebutuhan. Karena kebutuhan manusia selalu tidak akan cukup dan puas.

Sebenrnya lingkungan tidak memerlukan program-program khusus untuk kelestariannya. Lingkungan juga tidak butuh perawatan khusus seperti perawatan wajah-wajah artis nasional atau dunia untuk menjadi indah dan aman untuk kita lihat dan kita huni. Kita hanya perlu menjaga lingkungan kita seperti apa adanya untuk mencegah bencana alam. Mengurangi penghasilan sampah yang tidak terurai seperti plastik, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pepohonan sembarangan yang menjadi penyangga air. apakah kita sebagai penikmat segala yang ada dilingkungan ini sulit melakukannya? Anak kecil juga mampu melakukan hal seperti itu, generasi sebelumnya dan nenek moyang kita mampu menjaganya, kenapa kita tidak.

Pemerintah juga harus siap mendidik masyarakatnya dari sejak dini dengan ilmu-ilmu pengetahuan baik alam dan sosial hingga melahirkan masyarakat yang kreatif dalam mengurus urusan perut dan kebutuhan tanpa harus merusak lingkungan lagi. Pemerintah harus mampu membuka lapangan kerja yang lebih layak bagi rakyatnya. Memang bukan hal mudah seperti membalikkan telapak tangan bagi pemerintah, tapi bukankah itu merupakan bagian dari tugasnya dalam mengelola birokrasi negri?
Belajar dari pengalaman bencana alam yang sudah kita alami.  Pemerintah dan masyarakat jangan lagi kecolongan dengan bencana alam. Ubah perilaku hidup, kepentingan politik, ekonomi yang merusak lingkungan. Mari kita lestarikan alam dengan kesadaran kewajiban dan kepentingan individual. Bukan aku, kamu dan dia atau mereka, tapi untuk kita sendiri.

Pembangunan dan investasi memang perlu untuk memajukan ekonomi sebuah negara tapi jangan membuat pembangunan dan investasi mengabaikan lingkungan dan kebutuhan rakyat kelas bawah. Seimbangkan antara pembangunan-pembangunan, mensejahteraan masyarakat terutama kelas bawah, pendidikan yang memadai dan lapangan kerja yang cukup serta pelestarian lingkungan sekitar kita. Pemerintah dan masyarakat saling mendukung untuk menjaga lingkungan hingga alam ini tetap lestari, lingkungan terjaga dan masyarakat damai dan jauh dari ancaman bencana alam.


Dec 5, 2014

Sampah Sigli versus Sampah Denmark

December 05, 2014
Saat kita mendengar atau melihat kata “Sampah” secara alamiah kita pasti langsung bisa terbayangkan “kotor, menjijikkan, jorok atau apalah yang serupa dengan kata itu.” Bahkan manusia yang tidak bermoral atau berkelakuan mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat juga disebut sampah masyarakat. Dan disini aku menyimpulkan sampah adalah sesuatu yang sudah tidak digunakan lagi dan dibuang serta bisa menganggu kenyamanan manusia bila tidak dikelola secara baik. Bahkan tempat yang sangat indahpun jika dipenuhi dengan sampah akan sangat tidak enak untuk dilihat apalagi kita jadikan sebagai tempat tinggal untuk menyambung hidup.

Di negara-negara maju sampah sudah dikelola dengan baik. Pemerintah dan masyarakat saling mengerti untuk mengurus sampah. Sampah tidak dianggap sebagai hal yang sepele untuk di urus oleh pemerintah. Jika kamu seorang traveling mungkin kamu akan melihat perbedaan yang sangat jauh kebersihan kota-kota di negara maju dengan kota di indonesia.

Pernah kamu dengar atau singgah di Kopenhagen? Ya, Kopenhagen adalah ibukota Denmark. Kota yang selalu dipadati manusia. Baik itu warga Denmark sendiri ataupun turis atau pengunjung dari berbagai pelosok dunia termasuk indonesia. Walau selalu menjadi lautan manusia, tidak kita temukan tumpukan atau sampah yang berserakan di kota tersebut. Ini jauh berbanding balik dengan keadaan kita Sigli yang dipenuhi tumpukan sampah tengah kota  bahkan dipinggir jalan pun tidak jarang kita melihat tong sampah yang sudah tidak layak pakai dengan sampah yang bertebaran didalam dan sekitarnya. Padahal penghuni Sigli juga manusia seperti di Kopenhagen. Malah jika dijumlahkan, pengunjung manusia di Kopenhagen lebih didominasi jumlahnya dibandingkan sigli.

Apa yang membuat sigli lebih berserakan dibandingkan Kopenhagen? Apakah sigli kota kecil sedangkan Kopenhagen kota besar? Jika kita berpikir secara rasional, bukankah semakin kecil wilayah yang kita urus semakin mudah dalam mengelolanya?

Semalam aku sempat bertukar informasi tentang keadaan lingkungan dengan seorang teman melalui Facebook yang aku panggil kak Cinta. Beliau berasal dari Sigli tapi sekarang menetap di Denmark.  Dan aku berpendapat “Kopenhagen dan Sigli merupakan kota yang sama-sama dihuni oleh manusia.” Yang menjadikan beda antara kebersihan lingkungan Sigli dan Kopenhagen adalah kesadaran penghuninya sendiri dan Perhatian khusus pemerintah untuk menjaga lingkungan kota dari sampah.

“Disini dek, tempat untuk memasukkan barang-barang belanjaan seperti kantong plastik harus berbayar, beda dengan tempat kita di Sigli. Beli satu sikat gigi saja, kita meminta kantong plastik ataupun juga penjualnya dengan ramah menawarkan kantong plastik tempat menaruh barang belanjaan kita. Itu dengan sendirinya bisa kita lihat perbedaan yang sangat mencolok tanpa kita sadari. Di Sigli sampah dihasilkan dengan mudah tanpa biaya tapi di Denmark untuk menghasilkan sampah harus mengeluarkan biaya,” jelas kakak Cinta dengan ramah. “selama kakak disini tidak pernah kakak lihat orang membuang sampah sembarangan tanpa rasa bersalah, Pemerintahpun menyediakan tong sampah yang layak ditempat-tempat keramaian dan tidak pernah kita lihat penuh tong-tong tersebut dari sampah yang dibuang masyarakat apalagi meluap keluar. Pemerintah kota secara berkala mengurusnya,” kak Cinta menambahkan.

Saat aku mencoba menanyakan tentang sampah-sampah yang dihasilkan rumah tangga, kak Cinta juga mengutarakan hal yang sama. “Masyarakat disini sadar tanggung jawab dia sebagai penghasil sampah dan membayar biaya kepada yang mengurus sampah tersebut” dan  kak Cinta juga menambahkan “sebelum diserahkan pada mereka yang mengurus, sampah terlebih dahulu dipilah-pilah menurut jenisnya. Sampah organik dan an-organik tidak dalam satu tempat yang sama, bahkan sampah plastik, kaca, besi juga di masukkan dalam tempat yang berbeda.”

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/12/sampah-sigli-versus-sampah-denmark.html

Di Sigli tidak pernah kita lihat sebegitu teratur masyarakat memperlakukan sampah-sampah yang dihasilkannya hingga diserahkan kepada petugas yang bertugas mengurus sampah tersebut. Keadaan ini menyatakan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan di negara maju lebih tinggi dibandingkan disigli. Dan itu tidak terjadi secara otodidak pada masyarakat, tapi tingginya perhatian pemerintah setempat untuk memberi pengertian kepada masyarakat dalam mengelola lingkungan, baik itu secara peraturan atau lewat pendidikan. Beda dengan di daerah kita, dengan kondisi masyarakat yang masih minim kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan, pemerintahpun terlihat acuh tak acuh dalam mesosialisakannya,bahkan tidak terlihat serius menanggapi pengelolaan sampah-sampah. Itu juga terlihat dari masih banyak tong-tong sampah yang sudah tidak layak pakai masih berjejeran di emperan jalan.


Dengan Kopenhagen bisa menjaga lingkungannya, sigli juga bukan tidak mungkin melakukannya.  Jika masyarakat dan pemerintah mau bertanggung jawab  dalam menjaga lingkungan sekitar dan pengelolaan sampah yang benar serta memberi pendidikan, pengetahuan kepada masyarakat yang serius akan membantu membersihkan lingkungan sigli dari sampah. 

Nov 29, 2014

Cintai Lingkungan Bukan Sekedar Bicara

November 29, 2014
Hampir segenap lapisan masyarakat di Aceh khususnya sudah mengetahui larangan menebang pohon sembarangan di hutan lindung ataupun hutan konservasi. Lagian juga seruan untuk menyelamatkan lingkungan terdengar dimana-mana sekarang. Baik itu berupa pernyataan dari kepala daerah atau dari kepala-kepala dinas di pemerintahan, bahkan sampai spanduk-spanduk dan pamplet dipinggir jalan hingga kedalam hutan juga ikut menyerukan hal yang sama. Program dari pemerintah dan non pemerintah untuk kelestarian lingkungan hidup juga dilakukan dimana-mana. Bahkan ide-ide cemerlang menyelamatkan lingkungan dengan mensejahterakan masyarakat yang bermukim dipinggir-pinggir hutan juga sudah kerap kali kita baca di media sosial baik itu cetak atau online yang dilontarkan pimpinan daerah atau dinas-dinas pemerintah yang membidangi bagian lingkungan, tokoh masyarakat atau aktivis-aktivis lingkungan. Dan itu komitmen mereka untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Tapi pemandangan pada hari sabtu 22 November 2014 yang terlihat disalah satu bagian hutan wilayah pidie membuat aku yakin ide atau program-program yang pernah aku baca dan dengar tentang penyelamatan lingkungan hidup terutama hutan belum dan tidak terealiasi. Dari pinggir sungai yang mengalir antara bebukitan aku menatap keatas bukit-bukit yang hampir rata-rata terlihat lapang luas bak lapangan bola kaki. Jauh berbeda pemandangan saat aku mendaki kesini lima tahun lalu. Hutan yang masih lebat dan cuaca yang tidak sepanas sekarang terasa sangat mencolok perbedaannya.

Aku berjalan memanggul cariel menyusuri jalan yang sudah rapi diberi kerikil dan batu-batu yang sudah bisa dilewati kendaraan roda empat membelah hutan daerah itu, konon kabarnya jalan itu tembus sampai ke wilayah Jantho. Tidak jarang tumpukan kayu yang sudah berbentuk papan-papan tebal aku jumpai dipinggir jalan itu dan aku abadikan dengan camera saku yang selalu aku bawa saat pendakian. Setengah jam berjalan aku berpapasan dengan  sebuah mobil truck kecil penuh muatan kayu yang terperesok kepinggir jalan. “Hoe dek?” tanya supir yang sedang menstarter mobilnya, “Neuk jak ie rhoeut pak” aku menjawabnya sambil melebarkan senyuman. “tulong bantu ureung nyoe siat ka tulak moto jeut?” dengan mimik lelah dia meminta bantuan pada ku, sambil menurunkan cariel dipunggung aku menjawab “jeut pak”.



Lima menit mobil yang kami dorong ramai-ramai bisa kembali kebahu jalan. Sambil tersenyum sopir yang tadi meminta bantuan mengucapkan terimakasih padaku. “pak neubi rukok sibak, nyoe rukok kabeh ka beuklam lam gleenyan” ku coba buka pembicaraan dengan bapak sopir itu. disodorkan sebatang rokok berfilter “jeut, nyoepat pakek aju dek” jawab dia ramah. “jioh that neuangkot kayee lagoe pak?” tanya ku pada dia sambil menyulut rokok yang ku minta tadi, “pane na jioh, sinan bak krueng dikeu lon cok dek” sambil telunjuknya mengarah ke jalan yang menurun di depanku, “lah kana jalan batee lawetnyoe, nye baroeken sit meu ate ta angkot han dek” tambah dia lagi. Setelah menambah obrolan basa-basi sedikt, aku pamit jalan meneruskan perjalananku menuju air terjun kecil yang menjadi tujuanku saat itu.

Kembali aku menyusuri jalan dihutan itu yang kadang harus memotong arus sungai. Hingga aku berhenti saat bertemu dengan air terjun tujuan aku. Ku keluarkan buku saku dan pulpen dari tas kecil dan ku catat beberapa pemikiran yang keluar dari di otak aku sebagai jawaban dari pertanyaan  untuk pernyataan-pernyataan mereka yang pandai bicara yang pernah aku baca dan aku dengar biasanya diberita-berita perayaan hari lingkungan hidup.

“Program dan ide menyelamatkan lingkungan yang kerap menghiasi perayaan hari lingkungan hidup sedunia hanya sebatas simbolis saja. Pemerintah dengan atau tidak sengaja telah menyediakan fasilitas dan  mempermudah akses pembalakan liar dengan membuka jalan yang menghabiskan dana daerah atau negara beratus juta di tengah hutan yang secara kasat mata tidak ada manfaat bagi masyarakat umum kecuali untuk mengerogoti hutan-hutan yang dulunya lebat. Dan mereka tidak komit dengan ucapan mereka sendiri yang ingin menyelamatkan lingkungan.”  Sedikit pemikiran kotor untuk pemerintah ku tuangkan dibuku kecil ku tadi. Bukannya tidak percaya pada pemerintah tapi itulah yang terpikirkan saat aku melihat kenyataan dilapangan.
Adbox