Adbox

Apr 23, 2016

3 Wisata Ekstrem di Aceh yang Jarang dilirik Wisatawan

April 23, 2016
Ditahun 2016, sudah banyak wisatawan yang berlibur ke Aceh, menikmati wisata Aceh yang punya nuansa beda dengan daerah lain. Entah itu wisata pantainya, pegunungan,kuliner dan kota yang islami. Namun sayangnya, hampir dari keseluruhan para wisatawan jarang melirik wisata ekstrem yang ada di Aceh,hanya fokus pada wisata yang sudah lazim dari dulu untuk dikunjungi.

Bukankah ada sensasi berbeda saat kita mampu menikmati sisi beda dari wisatanya dan kebanggaan tersendiri saat kita menceritakan kepada publik  perjalanan dan pengalaman saat berhasil mengunjungi tempat yang tidak mereka kunjungi. Nah, kali ini Gubuk Penulis ingin berbagi 3  destinasi wisata Aceh yang jarang dilirik oleh para wisatawan lokal maupun manca negara;

1. GUNUNG SEULAWAH AGAM
Gunung ini terletak di Kecamatan Seulimum,Kabupaten Aceh Besar, dengan ketingian puncak 1800 Mdpl (Meter diatas permukaan laut). Gunung Seulawah Agam merupakan salah satu gunung berapi yang aktif di Aceh, dan pernah meletus pada tahun 1975 silam.

Gunung Seulawah Agam sering menjadi pilihan bagi para Pecinta Alam, entah untuk mengaplikasi ilmu tentang gunung hutan atau hanya sekedar menghilangkan suntuk. Gunung ini terlihat sangat beda dari gunung-gunung wisata biasanya. Tidak ada pemandangan khusus dari gunung yang satu ini, kecuali hutannya yang masih padat dan udaranya yang segar dan sejuk.

Untuk akses pendakiannya, Gunung Seulawah Agam bisa mengambil jalur melalui dusun Suka Makmur, Kecamatan Seulimum,Aceh Besar. Dengan jalur pendakian yang jarang didaki oleh umum,sebaiknya anda mengajak guide (penunjuk jalur) jika berminat untuk mencobanya. Untuk informasi lebih lengkap tentang pendakian GunungSeulawah, anda bisa mengunjungi situs resmi Mapala Jabal Everest. Mapala Jabal everest merupakan salah satu Pecinta Alam yang sering melakukan pendakian ke Gunung tersebut.


Gunung Seulawah Agam
Doc: Mapala Jabal Everest

2. GUNUNG PEUT SAGOE
Gunung Peut Sagoe terletak di wilayah Geumpang, Kecamatan Pidie, Gunung Peut Sagoe juga salah satu gunung berapi aktif di Aceh, selain gunung Seulawah Agam di Aceh Besar. Gunung ini berketinggian kubah solvatar 2.431 Mdpl (Meter diatas permukaan laut). Untuk jarak tempuh dari kota kabupatennya sekitar dua jam dengan jarak sekitar 100 Km dan berjarak sekitar 220 km dari kota Banda Aceh, dan bisa  ditempuh melalui jalan darat empat jam dalam keadaan normal.

Untuk jalur pendakiannya, anda bisa menghubungi para Pecinta Alam di Aceh yang kerap melakukan pendakian kesana. Salah satu Pecinta Alam yang paling dekat dengan Gunung tersebut adalah Mapala Jabal Everest.

Sedangkan tawaran dari menjelajah Gunung yang satu ini adalah panorama alam yang begitu eksotis dengan flaura fauna khasnya. Seperti Kantong Semar dan Bunga Edelwis yang tidak ditemukan disembarang tempat.

Gunung peut Sagoe

3. WISATA RAFTING (ARUNG JERAM) GEUMPANG
Meskipun Rafting  merupakan Olahraga ekstrem yang masih sangat jarang dilirik sebagai destinasi wisata oleh para wisatawan. Namun, siapa yang tidak ketagihan untuk menikmati wisata yang satu ini, kecuali yang belum pernah mencobanya.

Nah untuk informasi lebih lanjut, sudah pernah aku bahas dipostingan sebelumnya, anda bisa klik Wisata Arung Jeram Geumpang.


Wisata Arung Jeram Geumpang
Doc: Mapala Jabal Everest

Jangan sia-siakan perjalanan anda ke Aceh. Tidak semua orang bisa menikmati wisata alam seperti yang aku paparkan diatas. Namun aku yakin,sangat cocok dengan anda yang berjiwa Traveler atau Backpaker sejati. Visit Aceh 2016


Apr 19, 2016

Kuliner Khas Daerah Aceh Untuk Traveler

April 19, 2016
Di artikel sebelumnya, kita sudah pernah membahas kuliner khas daerah Aceh tentang Kuah Pliek dan juga Mie Aceh. Namun yang harus anda tahu, bukan cuma itu yang menjadi kuliner khas daerah yang dijuluki Serambi Mekkah tersebut. Masih banyak ragam kuliner khas disana, dan kali ini akan kita ulas tentang kuliner khas Eungkot Keumamah hasil kreasi tangan orang Aceh sejak dahulu zaman perang Belanda.

Engkot Keumamah bukan cemilan  semacam kerupuk atau roti-roti yang dipanggang lama diatas api, kuliner yang satu ini merupakan lauk yang dimasak dengan racikan bumbu tersendiri.

Meski Teksturnya yang keras, Engkot Keumamah sebenarnya diolah dari ikan Tuna atau ikan Tongkol yang dagingnya lembut serta berprotein tinggi. Sebelum disebut sebagai Engkot Keumamah,ikan Tuna/Tongkol terlebih dahulu melewati proses panjang. Ikan Tuna yang masih segar harus di bersihkan isi perutnya,setelah benar bersih,ikan direbus,kemudian dikeringkan selama dua atau tiga hari. Selama masa penjemuran itu,Ikan ditaburi garam dapur dan tepung,namun selain dijemur ada juga yang mengolah dengan pengasapan.

Dari segala keistimewaan kuliner yang satu ini dengan pengolahan secara tradisional,Engkot Keumamah menjadi buah tangan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Aceh. Selain mudah dibawa bepergian,Engkot Keumamah juga awet dan tahan lama meski tanpa bahan pengawet berbasis bahan kimia atau lainnya. Proses penjemuran atau pengasapan menjadikan kuliner ini sangat awet dan tahan lama,jadi bagi anda yang ingin menjadikan Engkot keumamah ini sebagai buah tangan untuk keluarga atau siapapun yang jauh,untuk ketahanannya tidak perlu anda ragukan.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/
Eungkot Keumamah yang Dijemur


Namun sebelum disaji untuk dinikmati,Ikan yang sudah melewati proses perubahan dari Tuna menjadi Engkot Keumamah,terlebih dahulu dimasak hingga jadi lauk yang mampu membuat lidah penikmatnya tidak tahan untuk tidak bergoyang.

Untuk proses penyajiannya Engkot Keumamah atau Ikan kayu khas Aceh ini,disayat tipis-tipis kemudian direndam dengan air panas untuk melunakkan kembali ikan yang sudah bertekstur keras tersebut. Kemudian masak dengan cara anda tumis bawang merah,bawang putih,cabe merah yang sudah diiris tipis,dan masukkan bumbu yang sudah dihaluskan terlebih dahulu(cabe merah,cabe keriting,cabe rawit merah dan asam sunti),tunggu sejenak hingga membaui harum. Tambahkan batang serai,daun salam,daun pandan,lengkuas dan cabai hijau,masak hingga matang. Kemudian tuang santan kental secara perlahan,sambil terus diaduk tambahkan Eungkot Keumamah yang sudah diiris dan dilunakkan sebelumnya,garam,gula pasir dan aduk sampai meresap,tunggu sampai Eungkot Keumamah sebagai bahan dasar empuk,dan Kuliner khas Aceh Engkot Keumamah siap disajikan.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id
Eungkot Keumamah Siap Disajikan

Untuk soal rasa, Engkot Keumamah jangan anda ragukan, apalagi anda hidang dengan nasi putih dalam keadaan masih panas.

Jika anda seorang Backpaker atau Traveler yang sedang di Aceh dan akan ke Aceh,jangan lewatkan kesempatan menikmati lezatnya kuliner khas Aceh yang satu ini,dijamin rasanya tidak mengecewakan lidah.  Hampir disemua warung makan atau restoran di Aceh menyediakan menu Eungkot Keumamah. Ayo Ke Aceh!!!

Apr 17, 2016

Kisah Cinta Tak Berujung

April 17, 2016
Tanpa sengaja mata Sangpemuda yang sedang dirundung indahnya jatuh cinta menatap mata kekasihnya,seketika senyum sipu malu merekah dibibir indah Sigadis yang sejak empat bulan lalu sudah menjalin hubungan sebagai kekasih dengan pemuda tersebut dalam ikatan pacaran seperti kehidupan anak muda moderen era sekarang. Sejenak dua pasang mata kekasih itu saling bertatap dalam senyum bahagia,seakan masa depan yang indah berhasil mereka terjemahkan diantara tatap pasang mata tersebut. Bahkan rasanya hari yang telah dan akan dilewati benar hanya untuk kehidupan mereka berdua. Sambil diremasnya lembut tangan Sigadis tersebut  oleh Sangpemuda, dan  dalam nada tanya,sepatah kalimat keluar dari mulutnya “dengan segala kekurangan yang ada, aku mencintaimu setulusnya sayang, bersediakah kau menjadi kebahagian aku suatu hari kelak hingga mata kita tak lagi mampu menatap keindahan seperti hari ini?”, dengan penuh kelembutan, gadis dengan wajah manis itu menggangguk dan menjawab “aku milikmu dan ingin bersamamu hidup dalam cinta mu selamanya.”

Jawaban Sigadis yang terlihat lebih tulus dari cinta yang sedang mendera hati dua insan itu, membawa mereka lebih jauh dalam khayalan yang  seakan telah hidup bersama atas nama cinta dalam ikatan sepasang suami istri yang hidup penuh bahagai karenanya. Hari itu mereka telah berhasil melukis kehidupan berdua kelak dalam rumah tangga yang turut hadir sepasang keturunan sebagai pelengkap kebahagiaan.

Berdua terus mereka lalui hari yang dibuat semakin indah dalam balutan pacaran. Kalimat-kalimat pujian saban hari diungkap antara masing hati karena cinta dan semakin menjadi bagian kebahagiaan dalam janji untuk terus hidup bersama. Kadang sekali waktu Sangpemuda rela menerobos hujan dan petir untuk menemani Sigadis yang dirundung sedih, gegara kucing peliharaan kesayangan mati. Kala itu tak bosan tangan Sangpemuda dengan penuh kasih sayang menyeka pipi Sigadis yang dibasahi airmata kesedihan untuk kucingnya yang mati, gegara ditabrak becak tetangga saat mengangkut barang keperluan minggu depan yang akan dilangsungkan pesta pernikahan putra sulungnya yang baru selesai Perguruan Tinggi. kucing malang itu sedang main dihalaman rumah tetangga namun naas pengemudi becak tak sempat melihat kucing tersebut hingga sudah berada dibawah ban becak.

Setahun,dua tahun, hingga tiga tahun berlalu,dua anak manusia tersebut terus bahagia dengan cinta yang konon sudah berakar kuat dalam ikatan pacaran. Hampir saban hari, pagi,siang,bahkan berlanjut sore, kedua anak manusia tersebut menghabiskan waktu bersama. Layaknya insan yang benar sudah dimabuk cinta. Entah itu dikampus tempat mereka kuliah, juga kadang mencari tempat rekreasi, pantai, atau caffe yang moderen untuk memadu kasih yang sudah terjalin lama.

Dalam jangka selama itu menjalin hubungan pacaran, diantara kebahagiaan yang menyelimuti hari-hari Sangpemuda dan Sigadis  kadang juga sesekali tecipta masalah-masalah yang menyebabkan pertengkaran atau kesedihan antara keduanya seperti lumrah kehidupan dimuka bumi ini. Namun, keadaan seperti itu berhasil mereka lewati dengan kebijakan rasa cinta yang mendera hati mereka.

Mengikuti kedewasaan Sangpemuda dan Sigadis yang semakin matang, juga usia hubungan pacaran mereka, pembahasan jenjang dewasa, baik secara biologis dan lainnya, kerap menjadi pembicaraan yang serius saat memadu kasih, entah itu lewat obrolan malam melalui pesawat telfon, atau hari-hari yang mereka habiskan bersama. Keduanya terus bertekad untuk bisa mengakhiri hubungan yang mereka jalin dalam pernikahan, namun kesiapan materi Sangpemuda, selalu menjadi penghalang bagi mereka untuk merealisasi janji yang pernah terucap dari awal menjalin hubungan sebagai kekasih dalam status pacaran.

Tapi Dua hati  yang terlanjur saling cinta, menjadi penopang penyelamat hubungan pacaran tersebut, meski tidak ada titik terang untuk menghakikikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan. Saling memberi semangat dan terus senyum dalam kekalutan hati yang dilanda gelisah karena usia Sigadis yang semakin lanjut, juga status Sangpemuda yang sudah cukup dewasa untuk bisa hidup seatap dengan kekasih hatinya, menjadi kekuatan terakhir yang membentengi cinta keduanya bisa tetap bersama dalam kegamangan landasan akhir rasa yang lama sudah terawat.

Meski semua telah mereka lakukan sebagai pengorbanan atas nama cinta dengan keinginan kuat untuk terus saling berada disisi, namun kebutuhan usia membuat antara mereka mulai sering dihinggap masalah, bahkan hal-hal sepele yang terjadi sehari-hari bisa menyebabkan Sangpemuda gelisah, juga Sigadis kerap meneteskan airmatanya meratapi yang diberi nama cinta.

Semakin hari seakan beban keduanya semakin tak terbendung, kebahagiaan yang dulu seakan tak akan pernah pudar dihapus masa, tergantikan dera batin ditimpa kegelisahan. Dan kegelisahan-kegelisahan serta masalah yang ada mulai membentuk jarak antara mereka, hari-hari dulu yang terus mengisi waktu bersama, kini kebersamaan yang berusaha untuk dijaga malah menjadi beban dan masalah. Pelan, semakin jarak antara kedua insan tersebut terbentuk, akhirnya mereka harus berpisah dengan derai airmata pada keduanya.

Janji cinta tak terpisahkan yang dibangun Sangpemuda dan Sigadis semasa pacaran, mereka bantah sendiri. Hari terakhir mereka lewatkan bersama, dalam kesedihan Sangpemuda mengucap kalimat pada Sigadis “cinta besar tak cukup untuk kita bisa terus bersama, pengorbanan telah sia-sia antara kita, meski cinta itu masih ada antara kamu dan aku. Hubungan ini tidak bisa menjadikan kita sepasang kekasih untuk terus bahagia bersama.” 

Apr 15, 2016

Mengapa Takut Berbagi Lewat Tulisan?

April 15, 2016
Sekitar dua puluh tahun silam, aku masih belajar mengenal huruf abjad di Sekolah Dasar, mengeja mengikuti suara sekalian melihat tangan ibu guru yang dengan sabar menunjuk abjad dari huruf A sampai dengan Z yang tertulis dipapan berwarna hitam pekat yang tergantung didepan ruang kelas. Bahkan sesekali (saat itu) dalam mengeja masih sering tertukar letak X dan Y,kadang juga W terlalu telat untuk diingat, hingga terlafaznya dengan penuh percaya diri tanpa malu setelah abjad Z. Seiring berusaha untuk mampu melafaz tanpa lagi harus meniru suara dan tanpa melihat lagi bentukan garis yang melukis huruf tersebut, juga berjuang mampu menggores dengan tangan sendiri untuk membentuk huruf-huruf abjad dilembar buku tulis pribadi.

http://gubukpenulis.blogspot.co.idSetahun, dua tahun berjuang hanya untuk mampu menulis nama sendiri, sampai bertahun-tahun belajar akan dunia baca tulis di pendidikan Sekolah Dasar, hingga kemudian mampu melukis sedikit cerita tentang diri sendiri,dimulai; nama sendiri,nama ibu-ayah,alamat,cita-cita,hobi. Hingga setelah masa belajar dasar tulis-baca,pengetahuan tentang tata-krama menulis pelan merasa mampu terkuasai,bahkan sempat-sempatnya untuk menguji kemampuan menulis, dengan menulis surat cinta untuk gadis-gadis muda yang seharusnya belum pantas membaca kalimat pujian yang bermaksud mengajak membina sebuah hubungan yang konon disebut pacaran. Kadang beberapa dari gadis yang mendapat kesempatan menikmati rangkaian kata-kata ekspresi hasil pembelajaran semasa enam tahun lamanya, berkata; wuih abang romantisnya.

Singkat usia, sampai saat ini sepatah dua kalimat sudah mampu aku bagikan untuk dibaca, mesti belum layak dikategori penulis profesional, setidaknya sudah berani mendukomentasi catatan perjalanan pribadi dalam tulisan.


Ada janji yang terikat pada diri sendiri hingga saat ini; Menulislah dan teruslah menulis, setidaknya ada kehidupan pribadi yang terbingkai dalam tulisan sendiri,  dibalik itu juga ada sedikit harapan bisa menebar semangat menulis bagi yang merasa takut berbagi melalui menulis setelah sekian tahun sejak dari Sekolah Dasar nyatanya sudah mengenal dunia baca-tulis. Ada tanya besar dibenak aku "kenapa masih ada yang takut menulis?"
Adbox