Adbox

Mar 11, 2016

Cara Hidup Sederhana Untuk Bahagia dan Membahagiakan




Tulisan ini aku tulis untuk dibaca semua kalangan tanpa perduli tujuan dari membacanya, dengan setitik harapan; ada manfaat yang bisa dijadikan keywords jalan hidup untuk sesiapapun. Tanpa memperhatikan jenjang pendidikan umum dan agama, atau sratifikasi sosial, apalagi letak beda jabatan yang terlukis pada yang merasa punya baju dinas. Setidaknya tahu cara hidup sederhana untuk bahagia dan membahagiakan.

Pikir punya pikir, tulisan ini hanya ingin  menjelaskan akan beberapa tanya yang diarahkan pada cara/jalan hidup aku oleh banyak rekan sekeliling, entah pertanyaan itu timbul dari mereka yang memakai sepatu tersemir dan  memelihara jenggot di usia muda dengan alasan (mengikuti) sunnah Rasulullah S.a.w, juga sekali waktu beberapa dosen ditempat aku sok jadi anak kuliahan, atau para orang tua/kepala keluarga yang tidak begitu rela untuk sekedar tahu anaknya dekat-dekat dengan lelaki semanis aku, hingga ada juga mereka sendiri para gadis dengan bibir yang merekah dibalik jilbab merah jambunya, ragu untuk membagi cintanya pada lelaki mirip (jalan pikir) aku, dengan alasan rasa takut suram akan masa depan.

Kehidupan

aku menulis buah hiu ini bukan juga pembantahan, akan (tuduhan) ketakutan kesuraman masa depan atau apalah kata layak yang semakna dengan  ketakutan kurang bahagia untuk hidup bersama kelak diujung lajang nanti saat menyebut nama aku dan dia (kamu) dengan kata ‘kita.’

Senyum polos dengan sok manis masih terpampang lucu di wajah oriental aku, sampai tulisan sebagai pustaka tulis menulis jalan cerita hidup aku sendiri, melongo didepan mata kamu. Entah, ini rasa ingin pura membuktikan hidup seorang aku hanya ada bahagia tanpa ada duka. Tapi yang jelas, seorang ‘aku’ selalu ingin konsisten membagi senyum sok manis untuk lingkungan sosial sekeliling, tanpa memperjelas status emosi yang selalu berubah bak cuaca.

Dengan segala aktifitas hari berhari akunya yang (memang) dianggap tidak menunjang kemampuan mewarnai dan menghiasi masa depan dengan sekumpulan penghasilan yang bisa menghasilkan kemewahan-kemewahan hidup. Timbul tanda tanya didepan kalimat-kalimat mereka tentang “kapan selesai kuliah? Kapan cari kerja? Kapan mampu berkeluarga? Kapan membahagiakan orang tua?” Sekumpulan pertanyaan yang sebenarnya sudah lebih awal dijawab oleh banyak mereka yang duluan menginjak kehidupan dari aku, bahkan dari kamu yang pura lebih tua,  juga sebelum tulisan ini aku tulis dan kamu membacanya para/sang gadis-gadis glamour yang saat ini.

Ya, ngopi setiap hari, mendaki Gunung, kembali dan mendaki lagi, membuat laporan-laporan perjalanan singkat tentang pendakian, hingga menulis unsur-unsur buah-buah hiu menjadi aktivitas yang menbahagiakan batin aku sampai hari ini. Sekonyongnya, kalian coba berfikir bahwa aktifitas yang aku geluti sejak 2009 dan pelan berkembang menjadi kebiasaan, bahkan ku arahkan menjadi kehidupan adalah hal yang sia-sia, buang-buang waktu.  Namun sejujurnya aku tidak merasa seperti yang fikir kalian tuduhkan ke aku. Menurut sehat jiwa raganya aku, Kenyamanan, kebahagiaan, dan suram atau tidak masa depan itu bisa dirasa berbeda dari tiap batok kepala. Logika zaman mata pelajaran Sekolah Menengah Pertama dulu; Rambut sama hitam,namun pikiran berbeda-beda.

Kebahagiaan tidak selalu di ukur dari materi, meskipun sewajarnya materi itu perlu untuk menjalankan roda hidup dizaman yang sudah tidak sebut purba lagi. Dan untuk mendapatkan materi juga tidak semua dengan jalan yang sama,bahkan memang tidak boleh sama. Untuk ibu/bapak yang punya anak gadis, jangan takut jika harus menitip masa depan anaknya pada manusia-manusia yang berjalan pikir mirip-mirip aku, atau malah gadis-gadis manis yang sedang membaca tulisan ini, jangan ragu untuk berbagi kisah-kasih merajut jalan hidup bersama lelaki berpola pikir layaknya aku. Jangan terbeban untuk hidup dalam kelaparan, Tuhan  selalu mengasihi dan melimpahkan rezeki untuk umat-NYA sesuai kapasitas kebutuhan, selama usaha dan doa selalu dibarengi dalam mencari Rahmat-NYA.

Dengan rasa percaya diri yang tidak berlebihan, aku berani mengungkapkann, orang-orang seperti 'kami', adalah orang yang selalu punya mimpi sederhana dalam hidup, dan selalu punya cara untuk berusaha mewujudkan mimpi berkapasitas lebih besar dari yang diharapkan. Aktifitas yang kebanyakan orang menganggap hal sepele, bagi kami menjadi ruang berjalan untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, dan itu sudah terbukti. Sebagai testimoni untuk meyakinkan, sampai hari ini, tidak ada (aku belum pernah mendengar tentang itu) pendaki atau penulis yang kehidupannya tidak hidup, meski tidak kaya. Bahkan, hidup kami paling tidak sampai saat ini, masih sangat kreatif untuk menghidupkan kehidupan. Juga berbicara tanpa title sarjana atau tidak pernah merasa lulus kuliah, pun sampai saat ini belum terbukti jika memiliki sarjana mampu meningkatkan taraf  hidup untuk lebih baik. Masih banyak sarjana bahkan pasca sarjana diluar sana yang berkeliaran jadi pengangguran, bahkan jangan ragu untuk melihat berapa banyak ijazah-ijazah yang sudah diphoto copi mereka untuk melamar kerja, namun tetap bertahan jadi pengangguran.

Untuk berpikir ijazah adalah akhir segalanya untuk bisa hidup makmur, aku berani menjamin itu pola pikir yang salah. Berapa banyak dari kami telah menjadi orang baik dan makmur bahagia hidupnya tanpa ijazah. Dengan hobi, mampu membuat taraf hidup kami lebih baik. Mendaki, mengunjungi tempat-tempat yang tidak dijumpai banyak manusia, kemudian kami tulis dan kabarkan; ada keindahan yang Tuhan titipkan di Negeri mu. Sadarkah, yang seperti kami menjadi orang paling beruntung, kami mampu menikmati hidup yang Tuhan anugerahkan, seterusnya bersyukur.

Pelajarilah cara hidup kami, senyum kami bukan karena tanpa duka, tapi mampu mensyukuri segala yang Tuhan kehendak atas kami, jadi alasan yang kuat untuk kami terus tersenyum menjalankan hidup. Hidup kami bukan tanpa keluhan, tapi percaya Tuhan selalu menempatkan umat-NYA sesuai letak kodratnya, menjadi semangat usaha kami tidak putus dan terhenti asa. Usaha, doa, hasil, syukur adalah kesederhanaan hidup.

No comments:

Post a Comment

Adbox