Tulisan ini aku tulis untuk dibaca semua kalangan
tanpa perduli tujuan dari membacanya, dengan setitik harapan; ada manfaat yang
bisa dijadikan keywords jalan hidup untuk sesiapapun. Tanpa memperhatikan
jenjang pendidikan umum dan agama, atau sratifikasi sosial, apalagi letak beda
jabatan yang terlukis pada yang merasa punya baju dinas. Setidaknya tahu cara hidup sederhana untuk bahagia dan membahagiakan.
Pikir punya pikir, tulisan ini hanya ingin
menjelaskan akan beberapa tanya yang diarahkan pada cara/jalan hidup aku oleh
banyak rekan sekeliling, entah pertanyaan itu timbul dari mereka yang memakai
sepatu tersemir dan memelihara jenggot di usia muda dengan alasan
(mengikuti) sunnah Rasulullah S.a.w, juga sekali waktu beberapa dosen ditempat
aku sok jadi anak kuliahan, atau para orang tua/kepala keluarga yang tidak
begitu rela untuk sekedar tahu anaknya dekat-dekat dengan lelaki semanis aku,
hingga ada juga mereka sendiri para gadis dengan bibir yang merekah dibalik
jilbab merah jambunya, ragu untuk membagi cintanya pada lelaki mirip (jalan
pikir) aku, dengan alasan rasa takut suram akan masa depan.


aku menulis buah hiu ini bukan juga
pembantahan, akan (tuduhan) ketakutan kesuraman masa depan atau apalah kata
layak yang semakna dengan ketakutan kurang bahagia untuk hidup bersama
kelak diujung lajang nanti saat menyebut nama aku dan dia (kamu) dengan kata
‘kita.’
Senyum polos dengan sok manis masih terpampang lucu di
wajah oriental aku, sampai tulisan sebagai pustaka tulis menulis jalan cerita
hidup aku sendiri, melongo didepan mata kamu. Entah, ini rasa ingin pura
membuktikan hidup seorang aku hanya ada bahagia tanpa ada duka. Tapi yang
jelas, seorang ‘aku’ selalu ingin konsisten membagi senyum sok manis untuk
lingkungan sosial sekeliling, tanpa memperjelas status emosi yang selalu
berubah bak cuaca.
Dengan segala aktifitas hari berhari akunya yang
(memang) dianggap tidak menunjang kemampuan mewarnai dan menghiasi masa depan
dengan sekumpulan penghasilan yang bisa menghasilkan kemewahan-kemewahan hidup.
Timbul tanda tanya didepan kalimat-kalimat mereka tentang “kapan selesai
kuliah? Kapan cari kerja? Kapan mampu berkeluarga? Kapan membahagiakan orang
tua?” Sekumpulan pertanyaan yang sebenarnya sudah lebih awal dijawab oleh banyak
mereka yang duluan menginjak kehidupan dari aku, bahkan dari kamu yang pura
lebih tua, juga sebelum tulisan ini aku
tulis dan kamu membacanya para/sang gadis-gadis glamour yang saat ini.
Ya, ngopi setiap hari, mendaki Gunung, kembali
dan mendaki lagi, membuat laporan-laporan perjalanan singkat tentang pendakian,
hingga menulis unsur-unsur buah-buah hiu menjadi aktivitas yang
menbahagiakan batin aku sampai hari ini. Sekonyongnya, kalian coba berfikir
bahwa aktifitas yang aku geluti sejak 2009 dan pelan berkembang menjadi
kebiasaan, bahkan ku arahkan menjadi kehidupan adalah hal yang sia-sia,
buang-buang waktu. Namun sejujurnya aku tidak merasa seperti yang fikir
kalian tuduhkan ke aku. Menurut sehat jiwa raganya aku, Kenyamanan, kebahagiaan,
dan suram atau tidak masa depan itu bisa dirasa berbeda dari tiap batok kepala.
Logika zaman mata pelajaran Sekolah Menengah Pertama dulu; Rambut sama
hitam,namun pikiran berbeda-beda.
Kebahagiaan tidak selalu di ukur dari materi, meskipun
sewajarnya materi itu perlu untuk menjalankan roda hidup dizaman yang sudah
tidak sebut purba lagi. Dan untuk mendapatkan materi juga tidak semua dengan
jalan yang sama,bahkan memang tidak boleh sama. Untuk ibu/bapak yang punya anak
gadis, jangan takut jika harus menitip masa depan anaknya pada manusia-manusia
yang berjalan pikir mirip-mirip aku, atau malah gadis-gadis manis yang sedang
membaca tulisan ini, jangan ragu untuk berbagi kisah-kasih merajut jalan hidup
bersama lelaki berpola pikir layaknya aku. Jangan terbeban untuk hidup dalam
kelaparan, Tuhan selalu mengasihi dan melimpahkan rezeki untuk umat-NYA
sesuai kapasitas kebutuhan, selama usaha dan doa selalu dibarengi dalam mencari
Rahmat-NYA.
Dengan rasa
percaya diri yang tidak berlebihan, aku berani mengungkapkann, orang-orang
seperti 'kami', adalah orang yang selalu punya mimpi sederhana dalam hidup, dan
selalu punya cara untuk berusaha mewujudkan mimpi berkapasitas lebih besar dari
yang diharapkan. Aktifitas yang kebanyakan orang menganggap hal sepele, bagi
kami menjadi ruang berjalan untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, dan itu
sudah terbukti. Sebagai testimoni untuk meyakinkan, sampai hari ini,
tidak ada (aku belum pernah mendengar tentang itu) pendaki atau penulis yang
kehidupannya tidak hidup, meski tidak kaya. Bahkan, hidup kami paling tidak
sampai saat ini, masih sangat kreatif untuk menghidupkan kehidupan. Juga berbicara
tanpa title sarjana atau tidak pernah
merasa lulus kuliah, pun sampai saat ini belum terbukti jika memiliki sarjana
mampu meningkatkan taraf hidup untuk
lebih baik. Masih banyak sarjana bahkan pasca sarjana diluar sana yang
berkeliaran jadi pengangguran, bahkan jangan ragu untuk melihat berapa banyak
ijazah-ijazah yang sudah diphoto copi mereka untuk melamar kerja, namun tetap
bertahan jadi pengangguran.
Untuk berpikir
ijazah adalah akhir segalanya untuk bisa hidup makmur, aku berani menjamin itu
pola pikir yang salah. Berapa banyak dari kami telah menjadi orang baik dan
makmur bahagia hidupnya tanpa ijazah. Dengan hobi, mampu membuat taraf hidup
kami lebih baik. Mendaki, mengunjungi tempat-tempat yang tidak dijumpai banyak
manusia, kemudian kami tulis dan kabarkan; ada
keindahan yang Tuhan titipkan di Negeri mu. Sadarkah, yang seperti kami
menjadi orang paling beruntung, kami mampu menikmati hidup yang Tuhan
anugerahkan, seterusnya bersyukur.
Pelajarilah cara hidup
kami, senyum kami bukan karena tanpa duka, tapi mampu mensyukuri segala yang
Tuhan kehendak atas kami, jadi alasan yang kuat untuk kami terus tersenyum
menjalankan hidup. Hidup kami bukan tanpa keluhan, tapi percaya Tuhan selalu
menempatkan umat-NYA sesuai letak kodratnya, menjadi semangat usaha kami tidak
putus dan terhenti asa. Usaha, doa, hasil, syukur adalah kesederhanaan hidup.


No comments:
Post a Comment