Adbox

Apr 17, 2016

Kisah Cinta Tak Berujung

Tanpa sengaja mata Sangpemuda yang sedang dirundung indahnya jatuh cinta menatap mata kekasihnya,seketika senyum sipu malu merekah dibibir indah Sigadis yang sejak empat bulan lalu sudah menjalin hubungan sebagai kekasih dengan pemuda tersebut dalam ikatan pacaran seperti kehidupan anak muda moderen era sekarang. Sejenak dua pasang mata kekasih itu saling bertatap dalam senyum bahagia,seakan masa depan yang indah berhasil mereka terjemahkan diantara tatap pasang mata tersebut. Bahkan rasanya hari yang telah dan akan dilewati benar hanya untuk kehidupan mereka berdua. Sambil diremasnya lembut tangan Sigadis tersebut  oleh Sangpemuda, dan  dalam nada tanya,sepatah kalimat keluar dari mulutnya “dengan segala kekurangan yang ada, aku mencintaimu setulusnya sayang, bersediakah kau menjadi kebahagian aku suatu hari kelak hingga mata kita tak lagi mampu menatap keindahan seperti hari ini?”, dengan penuh kelembutan, gadis dengan wajah manis itu menggangguk dan menjawab “aku milikmu dan ingin bersamamu hidup dalam cinta mu selamanya.”

Jawaban Sigadis yang terlihat lebih tulus dari cinta yang sedang mendera hati dua insan itu, membawa mereka lebih jauh dalam khayalan yang  seakan telah hidup bersama atas nama cinta dalam ikatan sepasang suami istri yang hidup penuh bahagai karenanya. Hari itu mereka telah berhasil melukis kehidupan berdua kelak dalam rumah tangga yang turut hadir sepasang keturunan sebagai pelengkap kebahagiaan.

Berdua terus mereka lalui hari yang dibuat semakin indah dalam balutan pacaran. Kalimat-kalimat pujian saban hari diungkap antara masing hati karena cinta dan semakin menjadi bagian kebahagiaan dalam janji untuk terus hidup bersama. Kadang sekali waktu Sangpemuda rela menerobos hujan dan petir untuk menemani Sigadis yang dirundung sedih, gegara kucing peliharaan kesayangan mati. Kala itu tak bosan tangan Sangpemuda dengan penuh kasih sayang menyeka pipi Sigadis yang dibasahi airmata kesedihan untuk kucingnya yang mati, gegara ditabrak becak tetangga saat mengangkut barang keperluan minggu depan yang akan dilangsungkan pesta pernikahan putra sulungnya yang baru selesai Perguruan Tinggi. kucing malang itu sedang main dihalaman rumah tetangga namun naas pengemudi becak tak sempat melihat kucing tersebut hingga sudah berada dibawah ban becak.

Setahun,dua tahun, hingga tiga tahun berlalu,dua anak manusia tersebut terus bahagia dengan cinta yang konon sudah berakar kuat dalam ikatan pacaran. Hampir saban hari, pagi,siang,bahkan berlanjut sore, kedua anak manusia tersebut menghabiskan waktu bersama. Layaknya insan yang benar sudah dimabuk cinta. Entah itu dikampus tempat mereka kuliah, juga kadang mencari tempat rekreasi, pantai, atau caffe yang moderen untuk memadu kasih yang sudah terjalin lama.

Dalam jangka selama itu menjalin hubungan pacaran, diantara kebahagiaan yang menyelimuti hari-hari Sangpemuda dan Sigadis  kadang juga sesekali tecipta masalah-masalah yang menyebabkan pertengkaran atau kesedihan antara keduanya seperti lumrah kehidupan dimuka bumi ini. Namun, keadaan seperti itu berhasil mereka lewati dengan kebijakan rasa cinta yang mendera hati mereka.

Mengikuti kedewasaan Sangpemuda dan Sigadis yang semakin matang, juga usia hubungan pacaran mereka, pembahasan jenjang dewasa, baik secara biologis dan lainnya, kerap menjadi pembicaraan yang serius saat memadu kasih, entah itu lewat obrolan malam melalui pesawat telfon, atau hari-hari yang mereka habiskan bersama. Keduanya terus bertekad untuk bisa mengakhiri hubungan yang mereka jalin dalam pernikahan, namun kesiapan materi Sangpemuda, selalu menjadi penghalang bagi mereka untuk merealisasi janji yang pernah terucap dari awal menjalin hubungan sebagai kekasih dalam status pacaran.

Tapi Dua hati  yang terlanjur saling cinta, menjadi penopang penyelamat hubungan pacaran tersebut, meski tidak ada titik terang untuk menghakikikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan. Saling memberi semangat dan terus senyum dalam kekalutan hati yang dilanda gelisah karena usia Sigadis yang semakin lanjut, juga status Sangpemuda yang sudah cukup dewasa untuk bisa hidup seatap dengan kekasih hatinya, menjadi kekuatan terakhir yang membentengi cinta keduanya bisa tetap bersama dalam kegamangan landasan akhir rasa yang lama sudah terawat.

Meski semua telah mereka lakukan sebagai pengorbanan atas nama cinta dengan keinginan kuat untuk terus saling berada disisi, namun kebutuhan usia membuat antara mereka mulai sering dihinggap masalah, bahkan hal-hal sepele yang terjadi sehari-hari bisa menyebabkan Sangpemuda gelisah, juga Sigadis kerap meneteskan airmatanya meratapi yang diberi nama cinta.

Semakin hari seakan beban keduanya semakin tak terbendung, kebahagiaan yang dulu seakan tak akan pernah pudar dihapus masa, tergantikan dera batin ditimpa kegelisahan. Dan kegelisahan-kegelisahan serta masalah yang ada mulai membentuk jarak antara mereka, hari-hari dulu yang terus mengisi waktu bersama, kini kebersamaan yang berusaha untuk dijaga malah menjadi beban dan masalah. Pelan, semakin jarak antara kedua insan tersebut terbentuk, akhirnya mereka harus berpisah dengan derai airmata pada keduanya.

Janji cinta tak terpisahkan yang dibangun Sangpemuda dan Sigadis semasa pacaran, mereka bantah sendiri. Hari terakhir mereka lewatkan bersama, dalam kesedihan Sangpemuda mengucap kalimat pada Sigadis “cinta besar tak cukup untuk kita bisa terus bersama, pengorbanan telah sia-sia antara kita, meski cinta itu masih ada antara kamu dan aku. Hubungan ini tidak bisa menjadikan kita sepasang kekasih untuk terus bahagia bersama.” 

1 comment:

Adbox