Adbox

Nov 21, 2015

SEMALAM KU BERPIKIR: ADA JALAN TANPA UJUNG DI INDONESIA

November 21, 2015
Sial!!! Kuat dugaan nyamuk-nyamuk yang tinggal dirumahku tanpa ku pungut biaya, sadar kalau aku anak yang jarang pulang dan tidur dirumah. Itu terbukti dengan serangan mereka yang tak pernah lelah menghujam kulit ini yang memang sok eksotis kata cewek-cewek manis yang pernah aku jumpai. Ya, memang aku jarang pulang kerumah sejak kuliah, walau hanya untuk singgah tengok kamar ku yang tak berpenghuni lagi. Namun, juga bukan sungguh kebetulan kehadiran ku dirumah malam ini . Ibunda tercinta ku sedang dilanda sakit. Jadi aku wajib dirumah, walaupun cuma untuk dilihat wajah sengok ku oleh ibu. Setidaknya, walau tak pernah aku ungkapkan. Saat-saat seperti ini ada yang sadar bahwa; Aku anak yang benar cinta keluarga”

Duduk sendiri dikamar bagai ayam mengeram tanpa tahu kapan akan pecah itu telur. Sesekali juga ke dapur-kamar mandi dan kembali kekamar. Itu aktivitas yang menguasai ku malam ini. Tak bisa di elak rasa suntuk mengambil alih pikiran ini.

Dalam suntuk gundah merana, Ku hidupkan laptop kerja kakak ku, ku cari file MP3 dan ku hidupkan secara random di Winamp-nya. Setelah beberapa lagu berjalan, mata mulai merasa  berat bagai diberi beban. Perlahan tertutup hingga hampir saja kesadaran hilang hanya karena lagu. Tetiba sebuah nyanyian dari (Bang) Iwan fals yang tak pernah aku tahu judulnya, mendayu manja kasar menghantam imajinasi ku yang hampir terbius tidur.

Dari gunung ke gunung
Menembus kabut lembah dan jurang
Melewati hutan pinus, melewati
jalan setapak
Mendengar gesekan daun dan
burung-burung
Menikmati aroma tanah dan
segarnya udara
Jauh dari kebingungan sehari-hari
Aku dapat lepas teriak
Aku dapat bebas bergerak
Lirik dan khas suara Iwan Fals rasanya telah meniadakan rasa kantuk, dan kemudian menghadirkan khayal dan lamunan nostalgia perjalanan hidup beberapa tahun silam hingga malam tadi. Tak ku tahu Jarum jam sudah menunjuk arah berapa, juga tak ada hasrat untuk melongo keluar melihat seberapa tinggi bulan sudah berjalan atau bahkan seberapa gelap malam tanpa ditemani bulan. Lagu yang sedang dinyanyikan sang (Abang) Iwan Fals, benar-benar membenamkan lamunanku kedasarnya, hingga tertulis sebuah lamunan yang ku juduli ADA JALAN TANPA UJUNG DI INDONESIA.

Indoensia Kaya

Berawal dari bergabung dalam Organisasi Pecinta Alam dikampus, aku mulai cinta pada hobi; menjelajah, mendaki gunung, tidur di hutan dan menunggu matahari diketinggian bumi hingga cinta pada Negeri. Beberapa gunung di Aceh sudah pernah aku rasa dinginnya cuaca, kelamnya hutan bahkan hingga liarnya alam ciptaan Tuhan. Serasa bangga menjadi seseorang yang jatuh cinta pada hobi. Walaupun hobi ini yang seberapa orang menganggap menjadikan aku seperti sekarang ini, tanpa gelar sarjana. Bahkan mereka dari seberapa itu berani memberi wejangan-nasehat yang membuat ku sering tersenyum kecil untuk aku tanggapi.

Ya, hobi yang hanya dilihat sebagai kesalahan dan sekedar hobi. Jarang ada yang berpendapat “hobi akan menjadi kenikmatan hidup yang sederhana”. Tak pernah ada yang mengorek “apa tujuan hidupnya dan hidup orang disekelilingnya” yang mereka pikir hanya “jalan hidup yang dijalankannya juga jalan bagi mereka lainnya”. Tak ada yang memprioritas kenyamanan diatas kesenangan. Satu kalimat yang ku bijakkan untuk kamu yang masih mencoba menasehati ku untuk hal itu juga untuk kalian yang “stuck” punya pikiran seperti itu; “Senang didunia tanpa kenyamanan adalah keputusasaan hidup yang kau topengi dengan kebahagiaan palsu.” Beuh!!! Serasa motivator akunya.

Kembali kedasar lamunan aku. Seusia mimpi yang telah aku cantumkan sebagai pilihan jalan hidup, banyak yang belum  terealisasi. Mungkin satu alasan bagi orang disekeliling mencemooh bahkan menganggap diluar kemampuan ku. Dalam do’a, tak pernah kutanyakan pada Tuhan, “kapan impian-impian ini membungkam keraguan yang diciptakan”? yang aku lakukan adalah berpikir dan berusaha untuk menemukan jalan baik menuju mimpi ini.

Aku sebagai pribumi, pantas menyapa setiap pelosok Negeri ini. Setidaknya, ada jengkalan tanah yang mengenal kala aku dikubur nantinya. Hobi adalah mainan kesenangan, tapi aku telah merubahnya menjadi sebuah jalan hidup liar yang nyaman. Menelusuri dan mendokumentasi perjalanan mengenal Gunung, Hutan, Sungai, Laut sebagai ciptaan Tuhan yang Esa dan juga Budaya warisan moyang akan menghidupkan hobi dan hidup ini sendiri. Hobi bukanlah sekedar hobi, hobi adalah kehidupan. Dari segalanya yang telah menjadi pengalaman. Banyak hal yang belum tercapai. Banyak tirai indah anugerah Tuhan di Indonesia yang belum tersibak. Itu sesuai dengan sebuah tulisan mimpi yang kujuduli dengan IndonesiaBisa Terlihat Lebih Kecil Dari Sebenarnya Ketika Mimpi Ini Terjawab. Karena sungguh, Indonesia punya jalan tak berujung, dari Sabang Sampai Merauke, tak ada awal tak berujung, yang ada hanya terus tersambung menjadi satu Negeri.
  
Bagi ku, Jalan hidup terlalu sempit hanya sekedar untuk membiayai dan menghidupi jiwa yang menunggu mati. Untuk apa hidup hanya untuk makan dan tidur nyenyak. Dunia terlalu suci untuk dikotori jiwa yang penuh benci dan iri. (Sampai jumpa kelak, dimanapun di Negeri ini)

Nov 16, 2015

Indonesia Bisa Terlihat Lebih Kecil Dari Sebenarnya Ketika Mimpi Ini Terjawab

November 16, 2015

Senin, 16 November 2015-- Aku duduk beralas tempat tidur dengan posisi bersandar punggung ke dinding kamar. Malam ini terlihat lebih gelap dikamar hunian yang memang lebih sepi dari biasanya. Tidak ada lampu yang menyala, tidak ada kopi yang terseduh, tidak ada rokok yang tersulut, tidak ada desiran angin yang berhembus, kecuali suara kipas angin jadul yang punya harga mahal dijamannya, terus meraung berputar berusaha membantu mensterilkan penghuni kamar dari gangguan nyamuk yang belum tentu mengetahui jenis kelaminnya.

Sembari menikmati dendang raung kipas angin, pikiran ku kembali jalan-jalan jauh ke tempat entah berantah. Dan terus coba mencari ruang kesempatan menjejali satu mimpi yang masih konsisten bertahan dalam anganku. Dari keinginan mencicipi, mendokumentasi ragamnya budaya negeri ku yang terus terkikis waktu dan kemudian hilang dari ingatan generasi, juga sekian banyak tempat yang sedang rindu jejak telapak kaki ini, seterusnya setiap inci yang baik dari hentakannya menjadi tulisan sejarah sebagai pertinggal untuk anak cucu kelak. Ada berjuta pesona yang menunggu antrian bertengger dalam catatanku, karena ribuan kosa kata telah dipersiapkan oleh moyangku dulu untuk menceritakan akan alam ciptaan tuhan memang indah jika tidak dirusak oleh hamba-Nya sendiri. Mengukur Indonesia yang bergugus pulau-pulau menjadi lebih kecil dari luas sebenarnya lewat tulisan dari tangan ini sendiri.

Namun untuk mewujudkannya tidak ada keinginan untuk mengemis atau bahkan menggembel untuk bisa meletakkan Indonesia dalam buku saku sendiri. Tenaga, otak, ilmu dan segala kecerdasan yang Tuhan ilhami akan aku gunakan sebagai jembatan impian. Melakukan hal yang benar dengan benar menjadi kepuasan bagi aku, memang bukan waktu yang singkat untuk itu tapi tidak akan ada batas waktu untuk berusaha dan semoga menjadi lebih mulia dari rasa membanggakan.



Itu sedikit jawaban dari pertanyaan “Kenapa tidak kau lakukan sekarang? Kenapa hanya jadi obrolan cita-cita seperti dimasa Sekolah Dasar dulu?” Memang Itu menjadi diantara banyak pertanyaan yang diajukan, dan tidak pernah ada jawaban serius yang harus aku gambarkan langsung pada mereka yang tidak punya mimpi besar atau bahkan untuk bermimpi saja tidak punya keberanian sama sekali. Tidak menjawab bukan untuk menghindar tapi setidaknya akan lebih menjadi rumit, ketika jawaban masih berbanding balik dengan keadaan yang bermimpi.

Semuanya masih teranggap sebagai mimpi tidak waras, setidaknya sampai detik ini. Tidak pernah otak kanan-kiri menolak anggapan itu, kecuali menjadi nyata suatu hari nanti.

Tuhan telah menata jalan menuju impian tersebut sedemikian indah dengan beragam tantangan dan halangan yang mengatur sedikit keraguan bagi yang mau berusaha merealisasi mimpi-mimpi besarnya. Akan tetapi bagi aku keraguan menyatakan mimpi itu sama sekali sudah tertepis sedari malam lalu ketika ledekan sahabat-sahabat tentang Mimpi Sang Pemimpi yang menjadi gelak tawa bagi mereka. Walau mimpi tetaplah keinginan yang belum/tidak terpenuhi. Namun bagi aku “Harapan selalu akan tumbuh dan terus tumbuh bagi jiwa-jiwa yang kuat, teguh dan tegar memperjuangkan impiannya.” Itu jadi salah satu kalimat luar biasa yang selalu membuat keyakinan hati tak pudar untuk menggapai bayang-bayang dalam kondisi apapun. Tidak ada kata tidak mungkin bagi pejuang walau sebagai pejuang mimpinya sendiri.

Jika kalian sama, jangan berhenti disini, apalagi takut bermimpi besar. Tepis rasa ragu, beri ruang untuk hati dan pikiran, yakin akan usaha kalian sendiri. Tuhan maha tahu akan segala kemampuan hamba-Nya. Mimpi dan cita akan kalian gapai sesuai besar dengan kerasnya usaha memperjuangkannya.

Dan tolong ceritakan ini pada anak cucumu nantinya wahai gadis yang tercipta dari igaku. Bahwa aku adalah kakek yang berani bermimpi untuk yakin berusaha merealisasinya. Ingat Sekali lagi, itu Jika kamu adalah gadis yang tercipta dari igaku.



Nov 14, 2015

Tanpa Kamu, Indonesia Akan Terus Kalah Saing Dengan Negara Lain

November 14, 2015
Indonesia terdiri dari banyak pulau, beragam adat dan budaya, kaya akan bahasa serta banyak lagi yang Indonesia punya dan tidak ada di negara lain. Namun pernahkan kita sejenak duduk dan berpikir, Indonesia kalah dan susah bersaing dengan negara-negara lainnya, apa yang salah dari Indonesia? Apakah ini takdir bagi Indonesia? Sudah seharusnya ada sebuah kesalahan yang menyebabkan Indonesia kalah dalam melangkah. Dan kesalahan bukanlah takdir.

Nov 7, 2015

Menjajal Pasir Hingga Mengejar Sunset Di Lampuuk

November 07, 2015
Aceh merupakan Provinsi terbarat Indonesia. Aceh dihiasi dengan wisata alam dari gunung, hutan serta laut dan pantainya yang  penuh pesona. Misalnya Gunung Goh Leumo atau Hutan Seulawah Agam dan Dara, juga Hutan Gunung Leuser, bisa dijadikan pilihan untuk menikmati ranumnya alam Aceh. Namun yang ingin aku ceritakan kali ini adalah pantainya. Aceh punya laut dan pantai yang tidak kalah kerennya dari Raja Ampat. Jika kalian berkesempatan mengunjungi Aceh, Lampuuk (Red: Lampu’uk)adalah Salah satu pantai yang wajib kalian singgahi.

Nov 2, 2015

Mimpi Sang Pemimpi (Part I)

November 02, 2015

( Part Ragu )
--Sabtu, 31 Oktober 2015--. Terduduk lesu dan ku halau pandangan jauh kedepan melewati kaca jendela yang nampak kusam oleh tetesan embun pagi beraduk dengan sisa-sisa debu yang tidak pernah ter-bersihkan.  Suasana gelap terlihat masih menyelimuti pagi. Kepulan asap rokok yang terhembus dari rongga mulutku hilang timbul dalam remangnya kamar, bak keragu-raguanku tekad yang kembali menghinggap pikiran untuk menyatakan impian menjadi sang Traveler .

Oct 30, 2015

Mimpi Bukan Sekedar Khayalan

October 30, 2015
Jalan-jalan keliling Nusantara atau bahkan keliling dunia, siapa yang tidak menginginkannya? Kecuali budget dan waktu yang minim memupus keinginan menjejalkan langkah disetiap jengkal bumi ini. Tidak disanggah memang, perlu budget lebih untuk mampu merealisasi keinginan yang satu itu. Atau mungkin punya budget yang melimpah namun tidak ada waktu bahkan kurang punya nyali untuk keluar dari zona nyamannya hidup dalam kesibukan. Dan akhirnya sama saja, tidak terjadi hal yang kita inginkan itu.

Sejak beberapa tahun silam, aku pernah berkhayal bisa keliling Nusantara mencicipi kayanya budaya dan adat yang berbeda dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia. Pun begitu, khayalan akan terus tidak nyata hanya karena ketakutan dan kekhawatiran wajar yang berlebihan. Dan hingga kemarin malam, Khayalan itu masih sebatas khayalan saja. Takut kekurangan budget bahkan hingga takut sepi sendiri dikota entah berantah tanpa tempat tempat mengadu  dan berbagi.

Namun, sejak tulisan ini melintas didepan bola mata kalian. Tekad aku sudah bulat dan keras. Bukan tekad untuk nekad, tapi tekad untuk mengalahkan ketakutan yang selama ini menjadi hantu penghalang untuk merealisasi  khayalan. Khayal ini sekarang menjadi Impian besar bagi jalan hidup sang anak muda. Dalam ketidaksengajaan ibu/bapak/kawan membaca mimpi ini, kalian menjadi saksi dan tulisan ini menjadi bukti kebulatan tekad ini, keberanian menyatakan mimpi , dan ini adalah janji. Janji pada diriku sendiri, pada kalian saudara-saudara sebentuk, pada kalian pengagumku, bahkan para wanita yang telah berani jatuh cinta padaku. Aku akan melangkah untuk menyatakan mimpi tersebut.

Bermimpilah,mimpi itu benar gratis. Dan realisasi mimpi-mimpi kalian dengan tekad dan keberanian. Tidak ada yang tidak mungkin dibumi ini kecuali tanpa usaha. Dan sejatinya, Hasil tidak akan mengkhianati proses.


Ramah dan Sopanlah Pada Lingkok Kuwieng

October 30, 2015
Lingkok Kuwieng, begitu nama tenarnya. Tapi masyarakat setempat menyebutnya dengan Uruek Meuh ( Lobang Emas). Lingkok Kuwieng bukanlah nama desa, juga bukan nama pemuda tampan dengan kumis tpisnya, atau nama satwa liar dihutan belantara. Lingkok Kuwieng sebenarnya salah satu destinasi wisata alam berbentuk sungai yang berkelok dengan air terjun kecilnya, diprovinsi Aceh, Kabupaten Pidie, Kecamatan Padang Tiji yang akhir-akhir ini mem-boom-ing dikancah para pencari surga alam. Dari pasar Kecamatan setempat menuju Lingkok Kuwieng, akan membutuhkan waktu tempuh dalam keadaan normal , lebih kurang 2 jam menggunakan sepeda motor. Dengan keadaan medan menanjak dan penuh bebatuan, juga sesekali tanah liat. Sebagai referensi awal bagi yang belum pernah mencoba trip ke Lingkok Kuwieng tersebut, perjalanannya akan sangat melelahkan dan menguras tenaga.

Aug 31, 2015

Dari Mendaki Seulawah Hingga Menemukan Arti Kehidupan

August 31, 2015
Pernah ke Aceh? Ia atau tidak jawaban nya aku kira rata-rata yang mengaku dirinya “pendaki atau istilah kerennya Mountaineer” pasti sudah tahu yang nama nya Seulawah!

Ya,Seulawah itu bukan nama pesawat terbang atau nama pria berperawakan seram  tapi sebuah gunung dengan ketinggian 1800 Meter diatas permukaan laut (Mdpl) di Provinsi Aceh. Mungkin jika kamu belum pernah mendakinya akan mengira biasa saja dengan ketinggian 1800 Mdpl.

Jul 11, 2015

Pecinta Alam

July 11, 2015
Kamu menyandang status sebagai Mahasiswa/siswa Pecinta Alam? Berbanggalah, karena kamu pernah melewati proses penddididikan yang tidak bisa dibilang mudah. tidak semua orang mampu bahkan belum tentu mau mengikuti proses tersebut.

Mungkin orang berpendapat: Apa susahnya hanya menjadi seorang Pecinta Alam. Modal mendaftar diri di organisasi-organisasi pecinta alam yang sudah tersebar hampir semua kampus bahkan sekolah-sekolah di Indonesia. Kemudian ikut proses pendidikannya. Beberapa orang berpikir Mahasiswa Pecinta Alam itu adalah segerombolan ‘serdadu’ mahasiswa/siswa yang hanya punya hobi mendaki gunung, arung jeram, menelusuri gua ataupun panjat tebing. Memang tidak sepenuhnya salah pemikiran itu.

Feb 8, 2015

MENDAPAT HIKMAH DALAM NIKMAT

February 08, 2015
Terlihat empat pemuda duduk bersantai disebuah balai dekat kaki punggungan sebuah gunung, seorang diantaranya dengan mengernyit dahi dan matanya dengan serius memandang kearah punggungan gunung didepannya  yang diselimuti hutan yang terlihat lebat, Sambil menghirup kopi yang masih terlihat panas dia menyela memecah kesunyian “berapa hari kita akan tembus ke ujung sungai di balik pegunungan itu?” tanyanya pelan sambil menghembuskan kepulan rokok kreteknya, anak muda disampingnya dengan tertawa ceria menjawab dalam candanya “gak usah serius men, tembus gak tembus, tiga hari kita harus kelar dari sini, karena persiapan logistik kita pas untuk segitu.”

Hari mulai beranjak gelap, sudah tidak terlihat lagi sinar matahari, yang menerangi sekitar mereka kecuali hanya suara terjangan hujan yang jatuh di atap rumbia balai tempat mereka berteduh. Empat pemuda tersebut mulai membongkar cariel masing-masing untuk mengeluarkan perbekalan pendakian yang sudah mereka siapkan, kemudian mereka disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang menyalakan api sebagai penerangan dan yang lain juga tampak bersemangat memasak menu yang sudah disiapkan untuk santapan malam ini. Jam menunjukkan pukul 19:00 wib, hidangan malam dari nasi, telur goreng, sop kentang dan kerupuk tepung sudah terisi di piring empat pendaki muda yang masih berstatus mahasiswa salah satu perguruan tinggi, tanpa harus dikomandoi empat piring sudah bersih dari isinya dilahap oleh pemiliknya masing-masing. “kita besok bangun jam 07:00 dan berangkat mendaki  jam 08:00 wib, urusan istirahat malam ini, terserah kita mau tidur jam berapa, gimana?” tanya salah satu dari mereka, “ok, gampang itu” jawab serempak tiga lainnya.  Setelah itu terdengar lelucon-lelucon diselingin sesekali tawa akrab dari mereka serentak, yang menyatakan empat pendaki muda itu sudah sangat akrab satu sama lain. Tidak terasa mereka asik bercengkrama ria mengisi malam yang lebih gelap dari malam-malam mereka sebelumnya, hentakan hujan di bumi sudah tidak terdengar dan jam sudah mengarah pada angka 12 yang menandakan waktu sudah tengah malam.

“Aku tidur duluan,” sambil menguap salah satu dari mereka meminta izin membaringkan tubuh di matras yang di gelar dilantai balai tempat mereka berteduh dari hujan sejak sore tadi. Dan selanjutnya satu persatu dari tiga pemuda lainnya juga mulai membaringkan tubuh untuk mengambil waktu isitirahatnya.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2015/02/hikmah-dalam-nikmat.html

Matahari yang belum terlihat jelas dimana letaknya mulai menerangi bumi, pertanda pagi sudah datang. suara ketukan sendok dan piring mengiringi pagi para pendaki yang sedang sarapan. Jam sudah menunjukan pukul 07:55 wib, semua perlengkapan yang dibongkar semalam dari cariel sudah tertata kembali dengan rapi dicariel masing-masing para pendaki. Tepat jam 08:00, cariel-cariel mereka sudah berada di pundak mereka, “untuk keselamatan dari awal hingga akhir perdakian kita mari kita berdoa dalam hati masing-masing, Al-fatihah,”  salah seorang dari mereka yang dijadikan ketua team pendakian kali ini memimpin awal perjalanan.

Secara beriringan para pendaki itu mulai menapaki punggungan gunung yang menjadi target pendakian mereka, sesekali orang paling depan dari mereka yang disebut leader mengayunkan parang untuk membersihkan jalur dari semak-semak bekas kebun masyarakat supaya bisa dilewati. Tidak jarang juga navigator si pemegang kompas yang berjalan ditengah-tengah barisan menunjukkan arah untuk mengarahkan sipembuka jalur.

“Saatnya rest” ujar pendaki berkulit hitam yang menjadi ketua team pendakian,sambil melirik jamnya yang sudah menunjukkan pukul 12:05 wib. Keringat terlihat mulai membasahi tubuh para pendaki yang duduk tak beraturan mengelilingi dua gelas kopi yang baru saja dimasak dengan alat masak khusus digunung, “wak, kita sedikit buru waktu setelah ini karena jalur pendakian kita masih panjang, pokoknya kita usahakan basecamp kita malam nanti harus sampai di countur ini,” ujar sang navigator sambil telunjuknya menyentuh countur yang menandakan landai dipeta. “gimana,siap?” tanyanya lagi. “ok” jawab leader dengan pasti.

Satu persatu cariel kembali diangkat ke bahu masing-masing, jam 13:30 wib, perjalanan kembali dilanjutkan, sesuai arahan sang navigator, dengan sigap pemuda yang bertugas sebagai leader dari awal pendakian mulai menerobos ilalang yang menyelimuti punggungan gunung, tanpa terasa hari terlihat sudah agak gelap, jam menunjukkan pukul 17:10. “Ok, sesuai target kita buka camp disini malam ini,” si ketua team menghentikan langkah para pendaki.

Seperti biasa pendakian, personil team mulai mengurus tugasnya masing-masing sesuai kesepakatan perencanaan sebelum pendakian, mencari kayu bakar, memasak dan mendirikan tenda terselesaikan dengan baik berkat saling menjaga tugas masing-masing dan kerjasama team yang apik. Waktu sudah menginjak malam hari, team sudah menunai hak perutnya masing-masing tanpa arahan siapapun, satu persatu personil team masuk ketenda dan meninggalkan api kecil yang menjilat-jilat dinginnya udara malam didepan tenda tempat merek bercengkrama sejak tadi.

Pagi kembali menyapa para pendaki, sinar matahari pagi mengusap tenda dan para pendaki sudah siap berangkat setelah sebelumnya mengecek semua perlengkapan dan membereskan tempat peristirahatan semalam. Di awali dengan doa bersama para pendaki mulai menapaki countur ke countur menerobos hutan. Dalam perjalanan acap kali pendaki menemukan alur-alur kecil yang jernih melewati lekukan lembah, tanpa menyentuhpun pendaki sudah bisa merasakan kesegaran dari jernihnya aliran air alur itu. “Allah maha besar, tanpa sungai yang besar air ini mengalir jernih diantara rimbunnya hutan menemani kehidupan satwa-satwa disini” ujar sang ketua team sambil berjalan, “sungguh Allah maha adil dan bijaksana,” tambahnya pelan tanpa melihat kearah siapapun sebagai lawan bicara. Matahari terlihat sudah merangkak diatas ubun-ubun, pertanda waktu sudah tengah hari, para pendaki sudah duduk beristirahat diantara pepohonan yang lebat menikmati kopi dan snack roti seadanya.

Perjalanan kembali dilanjutkan, jarum jam sudah menunjukkan pada arah pukul 13:30 wib. Dengan pasti langkah-langkah pendaki menyusuri medan yang terlihat agak menurun dan sesekali tangan pendaki harus berpegangan kuat pada batang-batang pohon kecil untuk menyeimbangkan tubuhnya saat melewati medan yang agak curam. Tujuan hampir sampai, air terjun dengan aliran deras dan segar mulai terbayang-bayang di mata pendaki. Tepat pukul 16:17 wib, bayangan yang dari tadi mengintai otak kiri kanan para pendaki menjadi nyata di depan mata, suara air yang jatuh terdengar bagai irama yang membuat rasa lelah para pendaki seketika hilang, tanpa ajak-mengajak dan tanpa kompromi mereka para pendaki langsung merendam tubuhnya yang dari tadi dipenuhi keringat bagai air garam menyiram tubuh.

Puas bermain dengan kesegaran, pendaki menjemur diri di batu-batu besar di dekat sungai yang menjelma bagai surga bagi mereka, seseorang dari mereka menyela diantara suara air yang jatuh menimpa bebatuan “hidup memang begini, bukan keinginan yang harus di paksakan tapi mensyukuri kebutuhan yang terpenuhi” ujarnya dengan tersenyum, “dari kemarin kita tidak bisa memakan apa yang kita inginkan kecuali hanya terbatas perbekalan yang ada, kita tidak bisa berjalan arah sesuka hati tapi arah yang sudah ditentukan baru kita bisa menemukan keindahan ini untuk kita nikmati” tambahnya lagi. “ya benar memang, kenapa masih ada orang didunia yang kadang terkesan susah hidupnya dengan segala kebutuhan yang terpenuhi, mungkin mereka terlalu mengejar keinginan tanpa mensyukuri kebutuhan yang telah Allah berikan pada dia, dari perjalanan kali ini aku bisa mengambil hikmah untuk perjalanan hidup ku” ketua team menyambung pembicaran tadi “yakin berusaha dan mensyukuri hasil dari usaha adalah cara menikmati hidup ini,” pungkas ketua team.

Matahari terlihat menyeret cahayanya dicelah-celah puncak gunung arah barat dari basecamp tempat para pendaki muda itu berteduh dari belaian dinginnya suasana di pinggir sungai diantara punggung pegunungan yang menghimpit, malam mulai menyapa pendaki, gemericik suara air dan sinar rembulan yang malu-malu menemani senyuman pendaki malam itu yang terlihat puas dengan pencapaian sesuai target pendakian kali ini, dibarengi nikmat dan hikmah yang bisa mereka rasakan, usaha yang lelah terbayar sudah dengan segala keindahan didepan mata mereka.

Dec 28, 2014

Jangan Tunggu Waktu Untuk Jelajah Bumi Aceh

December 28, 2014
Kamu seorang wisatawan atau istilah kerennya traveler? Sudah menginjak bumi Aceh belum? Jika kalian sudah pernah “syukurlah,” mudah-mudahan kalian berpendapat Aceh menjadi tempat yang ramah dan puas untuk dijelajahi. Tapi jika belum pernah dan berkeinginan menjelajahinya, aku berani berkata “bumi Aceh pantas untuk kalian tulis di deretan nama-nama tempat yang ingin kalian tapaki.” Selain panorama alam yang bisa memanjakan mata traveler, Aceh juga menyajikan wisata kuliner dan budayanya yang masih sangat kental.

Kebanyakan para traveler dominan memilih pantai-pantai di Aceh, seperti Sabang, Lhok Nga, Lampu’uk. Itu cuma beberapa contoh pantai yang banyak di kunjungi traveler dan masih banyak pantai-pantai lain yang juga menjadi pilihan wisatawan ke Aceh. Memang tidak diragukan keindahan pantai-pantai Aceh. Pesona bawah laut yang sangat beragam membuat wisatawan  berdecak kagum, itu terbukti dari wisatawan lokal dari Indonesia sendiri dan juga dari mancanegara yang betah untuk liburan dipantai Aceh. Tidak kalah keren juga diatas permukaan laut yang menyajikan berbagai kekaguman. Apalagi setelah musibah tsunami menerjang Aceh, Surving juga telah menjadi olahraga yang trend di pantai Lhok ‘nga untuk menikmati ombak yang mengalun berirama di hamparan laut.

Tapi aku disini sebagai manusia yang hobi mendaki gunung menyarankan kepada traveler untuk tidak mengabaikan pesona Gunung-gunung disini. Keindahan dan keberagaman ekosistem dibelantara hutan Aceh tidak kalah dari laut. Bahkan pegunungan dan hutan Aceh menjadi objek penelitian ilmuan-ilmuan muda dari berbagai penjuru dunia.  “Menikmati pesona dari atas ke bawah lebih puas dibandingkan dari bawah ke atas” begitulah prinsipku sebagai seorang pendaki yang amatiran. Mata akan biasa saja saat melihat gunung dari pantai, tapi jika kamu melihat pantai dari ketinggian puncak-puncak gunung “wow amazing” begitulah lebih kurang yang akan terjadi ekspresinya.

Memilih pegunungan Aceh seperti Leuser, Burni Telong, Klieten, Seulawah Agam, Glee Raja tidak akan membuat suasana traveler anda kecewa. Itu beberapa gunung yang bisa aku sebutkan disini, masih banyak gunung-gunung lainnya yang berjejeran di Aceh untuk anda nikmati.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id

Pesan dari aku, apapun pilihan tempat kita berwisata ikutilah aturan budaya dan adat serta hukum yang berlaku didaerah tujuan wisata. Tetap jaga kelestarian alam dengan tidak membuat tempat tujuan anda cacat oleh ulah kita manusia, hal yang paling kecil adalah jangan pernah buang sampah sembarangan baik itu di laut, gunung, hutan, sumber air, walaupun disekitar-kita penuh sampah, buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan. Alam sebagai tempat tinggal seluruh makhluk hidup jangan hancur hanya untuk kita menikmatinya. Biasakan yang benar dan jangan benarkan yang biasa.

Dec 16, 2014

Jaga Lingkungan dan Alam sekitar Mulai Sekarang

December 16, 2014
Bencana alam yang akhir-akhir ini meneror bumi Indonesia telah menimbulkan keresahan hati masyarakat Indonesia, simiskin,fakir bahkan sikaya-raya pun tak luput dari perasaan takut. Yang tinggal di pinggiran gunung takut akan longsor, dan yang tinggal di tengah-tengah kotapun takut akan banjir yang melanda. Apalagi beberapa hari yang lalu ditanah Jawa telah terjadi longsor yang memakan korban tidak sedikit.

Saat bencana disorot oleh media dan dipertanyakan penyebab bencana alam, pemerintah dan masyarakat juga selalu saling menuding sebab terjadinya bencana. Pemerintah mengatakan “masyarakat tidak mengindah peringatan pemerintah tentang akibat ini-itu hingga terjadi bencana alam.” Sedangkan masyarakat mengatakan “ kurangnya perhatian dan kontribusi pemerintah untuk memprogramkan peminimalisir terjadinya bencana alam.” Setelah sekian banyak bencana yang melanda bumi indonesia. Sadar atau tidak, pemerintah dan masyarakat kita hanya kebakaran jenggot saat dan setelah beberapa hari atau bulan bencana melanda. Sibuk menanam pohon di bukit-bukit dan tanah yang sudah gundul dan membersihkan sampah-sampah disungai, tapi setelah itu kembali kita mengabaikan dan lupa apa yang harus kita lakukan untuk meminimalisir dan mencegah bencana itu terulang kembali.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/12/jaga-lingkungan-dan-alam-sekitar-mulai.html

Perlu kita sadari saling menuding dan menyalahkan tidak akan pernah mengakhiri dan menjauhkan kita dari bencana alam yang memporak-porandakan negeri ini. Hanya akan memperlambat kesadaran untuk menjaga lingkungan kita sendiri. Pernahkah kita menanyakan pada hati kita masing-masing. Tanggung jawab siapa lingkungan ini? Siapa yang merasa dampak baik dan buruknya dari keadaan lingkungan sekitar kita? Aku yakin semua jawaban yang kita temukan “bukan pemerintah atau masyarakat” tapi “kita.” Nah, dari jawaban hati kita masing-masing, masihkah kita berharap pemerintah atau masyarakat yang akan menjaga lingkungan ini?

Menebang pohon secara liar, membuang sampah sembarangan, membuka area perkebunan secara membabi buta hingga tiada lagi hutan penghasil oksigen untuk manusia, pembangunan dengan alasan memajukan ekonomi  secara berlebihan hingga harus mengorbankan pepohonan-pepohonan yang menjadi penyangga air dan megabaikan kebutuhan rakyat kelas bawah adalah beberapa sebab yang akan mengakibatkan bencana alam. jika menanyakan kepada masyarakat “kenapa menebang pohon,membuka perkebunan secara liar,membuang sampah sembarangan?” jawabannya tidak kita sangsikan lagi “tidak ada pilihan lain mencari nafkah untuk menghidupi keluarga atau itu satu-satunya lapangan kerja yang bisa  didapatkan.” Ya, itu jawaban yang sangat sering terlontar dari masyarakat atau pemerintah. Tidak bisa kita salahkan untuk menunaikan keharusan manusia menyamankan perut demi menyambung hidup. Itu kebutuhan yang tidak bisa kita hindarkan. Tapi menjaga lingkungan sebagai kewajiban tidak bisa banding-bandingkan dengan kebutuhan. Karena kebutuhan manusia selalu tidak akan cukup dan puas.

Sebenrnya lingkungan tidak memerlukan program-program khusus untuk kelestariannya. Lingkungan juga tidak butuh perawatan khusus seperti perawatan wajah-wajah artis nasional atau dunia untuk menjadi indah dan aman untuk kita lihat dan kita huni. Kita hanya perlu menjaga lingkungan kita seperti apa adanya untuk mencegah bencana alam. Mengurangi penghasilan sampah yang tidak terurai seperti plastik, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pepohonan sembarangan yang menjadi penyangga air. apakah kita sebagai penikmat segala yang ada dilingkungan ini sulit melakukannya? Anak kecil juga mampu melakukan hal seperti itu, generasi sebelumnya dan nenek moyang kita mampu menjaganya, kenapa kita tidak.

Pemerintah juga harus siap mendidik masyarakatnya dari sejak dini dengan ilmu-ilmu pengetahuan baik alam dan sosial hingga melahirkan masyarakat yang kreatif dalam mengurus urusan perut dan kebutuhan tanpa harus merusak lingkungan lagi. Pemerintah harus mampu membuka lapangan kerja yang lebih layak bagi rakyatnya. Memang bukan hal mudah seperti membalikkan telapak tangan bagi pemerintah, tapi bukankah itu merupakan bagian dari tugasnya dalam mengelola birokrasi negri?
Belajar dari pengalaman bencana alam yang sudah kita alami.  Pemerintah dan masyarakat jangan lagi kecolongan dengan bencana alam. Ubah perilaku hidup, kepentingan politik, ekonomi yang merusak lingkungan. Mari kita lestarikan alam dengan kesadaran kewajiban dan kepentingan individual. Bukan aku, kamu dan dia atau mereka, tapi untuk kita sendiri.

Pembangunan dan investasi memang perlu untuk memajukan ekonomi sebuah negara tapi jangan membuat pembangunan dan investasi mengabaikan lingkungan dan kebutuhan rakyat kelas bawah. Seimbangkan antara pembangunan-pembangunan, mensejahteraan masyarakat terutama kelas bawah, pendidikan yang memadai dan lapangan kerja yang cukup serta pelestarian lingkungan sekitar kita. Pemerintah dan masyarakat saling mendukung untuk menjaga lingkungan hingga alam ini tetap lestari, lingkungan terjaga dan masyarakat damai dan jauh dari ancaman bencana alam.


Dec 5, 2014

Sampah Sigli versus Sampah Denmark

December 05, 2014
Saat kita mendengar atau melihat kata “Sampah” secara alamiah kita pasti langsung bisa terbayangkan “kotor, menjijikkan, jorok atau apalah yang serupa dengan kata itu.” Bahkan manusia yang tidak bermoral atau berkelakuan mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat juga disebut sampah masyarakat. Dan disini aku menyimpulkan sampah adalah sesuatu yang sudah tidak digunakan lagi dan dibuang serta bisa menganggu kenyamanan manusia bila tidak dikelola secara baik. Bahkan tempat yang sangat indahpun jika dipenuhi dengan sampah akan sangat tidak enak untuk dilihat apalagi kita jadikan sebagai tempat tinggal untuk menyambung hidup.

Di negara-negara maju sampah sudah dikelola dengan baik. Pemerintah dan masyarakat saling mengerti untuk mengurus sampah. Sampah tidak dianggap sebagai hal yang sepele untuk di urus oleh pemerintah. Jika kamu seorang traveling mungkin kamu akan melihat perbedaan yang sangat jauh kebersihan kota-kota di negara maju dengan kota di indonesia.

Pernah kamu dengar atau singgah di Kopenhagen? Ya, Kopenhagen adalah ibukota Denmark. Kota yang selalu dipadati manusia. Baik itu warga Denmark sendiri ataupun turis atau pengunjung dari berbagai pelosok dunia termasuk indonesia. Walau selalu menjadi lautan manusia, tidak kita temukan tumpukan atau sampah yang berserakan di kota tersebut. Ini jauh berbanding balik dengan keadaan kita Sigli yang dipenuhi tumpukan sampah tengah kota  bahkan dipinggir jalan pun tidak jarang kita melihat tong sampah yang sudah tidak layak pakai dengan sampah yang bertebaran didalam dan sekitarnya. Padahal penghuni Sigli juga manusia seperti di Kopenhagen. Malah jika dijumlahkan, pengunjung manusia di Kopenhagen lebih didominasi jumlahnya dibandingkan sigli.

Apa yang membuat sigli lebih berserakan dibandingkan Kopenhagen? Apakah sigli kota kecil sedangkan Kopenhagen kota besar? Jika kita berpikir secara rasional, bukankah semakin kecil wilayah yang kita urus semakin mudah dalam mengelolanya?

Semalam aku sempat bertukar informasi tentang keadaan lingkungan dengan seorang teman melalui Facebook yang aku panggil kak Cinta. Beliau berasal dari Sigli tapi sekarang menetap di Denmark.  Dan aku berpendapat “Kopenhagen dan Sigli merupakan kota yang sama-sama dihuni oleh manusia.” Yang menjadikan beda antara kebersihan lingkungan Sigli dan Kopenhagen adalah kesadaran penghuninya sendiri dan Perhatian khusus pemerintah untuk menjaga lingkungan kota dari sampah.

“Disini dek, tempat untuk memasukkan barang-barang belanjaan seperti kantong plastik harus berbayar, beda dengan tempat kita di Sigli. Beli satu sikat gigi saja, kita meminta kantong plastik ataupun juga penjualnya dengan ramah menawarkan kantong plastik tempat menaruh barang belanjaan kita. Itu dengan sendirinya bisa kita lihat perbedaan yang sangat mencolok tanpa kita sadari. Di Sigli sampah dihasilkan dengan mudah tanpa biaya tapi di Denmark untuk menghasilkan sampah harus mengeluarkan biaya,” jelas kakak Cinta dengan ramah. “selama kakak disini tidak pernah kakak lihat orang membuang sampah sembarangan tanpa rasa bersalah, Pemerintahpun menyediakan tong sampah yang layak ditempat-tempat keramaian dan tidak pernah kita lihat penuh tong-tong tersebut dari sampah yang dibuang masyarakat apalagi meluap keluar. Pemerintah kota secara berkala mengurusnya,” kak Cinta menambahkan.

Saat aku mencoba menanyakan tentang sampah-sampah yang dihasilkan rumah tangga, kak Cinta juga mengutarakan hal yang sama. “Masyarakat disini sadar tanggung jawab dia sebagai penghasil sampah dan membayar biaya kepada yang mengurus sampah tersebut” dan  kak Cinta juga menambahkan “sebelum diserahkan pada mereka yang mengurus, sampah terlebih dahulu dipilah-pilah menurut jenisnya. Sampah organik dan an-organik tidak dalam satu tempat yang sama, bahkan sampah plastik, kaca, besi juga di masukkan dalam tempat yang berbeda.”

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/12/sampah-sigli-versus-sampah-denmark.html

Di Sigli tidak pernah kita lihat sebegitu teratur masyarakat memperlakukan sampah-sampah yang dihasilkannya hingga diserahkan kepada petugas yang bertugas mengurus sampah tersebut. Keadaan ini menyatakan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan di negara maju lebih tinggi dibandingkan disigli. Dan itu tidak terjadi secara otodidak pada masyarakat, tapi tingginya perhatian pemerintah setempat untuk memberi pengertian kepada masyarakat dalam mengelola lingkungan, baik itu secara peraturan atau lewat pendidikan. Beda dengan di daerah kita, dengan kondisi masyarakat yang masih minim kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan, pemerintahpun terlihat acuh tak acuh dalam mesosialisakannya,bahkan tidak terlihat serius menanggapi pengelolaan sampah-sampah. Itu juga terlihat dari masih banyak tong-tong sampah yang sudah tidak layak pakai masih berjejeran di emperan jalan.


Dengan Kopenhagen bisa menjaga lingkungannya, sigli juga bukan tidak mungkin melakukannya.  Jika masyarakat dan pemerintah mau bertanggung jawab  dalam menjaga lingkungan sekitar dan pengelolaan sampah yang benar serta memberi pendidikan, pengetahuan kepada masyarakat yang serius akan membantu membersihkan lingkungan sigli dari sampah. 
Adbox