Adbox

Nov 15, 2014

PAKSAAN BATIN SANG PENULIS

Berjam-jam aku duduk ditemani kopi pancung, ku coba putar otak untuk berpikir 'ide apa yang harus ku tuang? Apa yang harus aku ceritakan tentang kejadian hari ini? Apa yang harus ku tulis?' begitu banyak pertanyaan yang timbul dari keinginan  menulis aku.

Ku coba ceritakan lewat tulisan tentang rasa kepada seorang wanita tapi itu hanya bertahan sebait saja setelah itu kembali ku hapus, 'ah tidak terlalu berlebihankah mengumbar tentang hati ditempat umum' hatiku ikut bertanya tentang tulisan cinta-cintaan itu. Mulai ku otak-atik lagi mesin pencarian dilaptop yang terhubung dengan wi-fi dan ku kunjungi blog-blog mereka yang sudah duluan menjadi penulis handal, dua jam lebih aku mencari inspirasi untuk bisa aku tuangkan disini, tapi hasilnya tetap nihil.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/11/paksaan-batin-sang-penulis.html

Rasanya mulai suntuk sendiri, ku biarkan laptop duduk manis diatas meja tanpa ku sentuh keyboardnya. Ku cabut sebatang rokok kretek dari bungkusannya yang dari tadi menganggur, ku sulut sambil menghisap pelan dan ku hembuskan asapnya dengan keras, seakan-akan sedang membuang keinginan batinku untuk menulis malam ini, sambil kuletakkan dua kaki ditempat duduk dan dengan gaya menyandarkan badan pada lutut yang sudah tepat sejajar dengan dada kemudian ku seruput kopi  yang telah dihidang oleh pelayan warung sejak sore tadi, dengan berpura-pura sedang tidak berpikir apa-apa, aku mencoba membuat keadaan santai sesantainya


Tiga puluh menit berlalu, tapi keadaan tetap tidak bisa membuat aku tenang 'aku harus menulis,' batinku berbisik sendiri. Kuraih laptop dengan berharap ada sesuatu yang bisa ku tulis, jari tanganku kembali menari tanpa tujuan di atas keyboard, namun hasilnya tidak berubah sedikitpun.
Dalam Kebuntuan yang benar-benar menghinggapi imajinasi liar ku malam ini, aku berpendapat: "ternyata menulis bukan sekedar tentang keinginan yang menggebu-gebu tapi butuh kesabaran yang lebih untuk melahirkannya,” dan aku sadar “aku bukan seorang penulis tapi aku hanya sedang belajar menulis untuk jadi seorang penulis.”


Sambil membalas pesan yang baru saja masuk ke telpon genggamku dari seorang gadis manis yang sedari tadi setia menemaniku mencari inspirasi menulis, ku seruput kopi yang tinggal sedikit lagi dalam-dalam penuh nikmat  dengan rasa puas  dari 'kejenuhan dalam menulis,' sembari  menebar senyuman sok-sok manis kesekeliling, dan aku menutup tulisan yang tidak seberapa mana ini.

No comments:

Post a Comment

Adbox