Adbox

Nov 29, 2014

Cintai Lingkungan Bukan Sekedar Bicara

November 29, 2014
Hampir segenap lapisan masyarakat di Aceh khususnya sudah mengetahui larangan menebang pohon sembarangan di hutan lindung ataupun hutan konservasi. Lagian juga seruan untuk menyelamatkan lingkungan terdengar dimana-mana sekarang. Baik itu berupa pernyataan dari kepala daerah atau dari kepala-kepala dinas di pemerintahan, bahkan sampai spanduk-spanduk dan pamplet dipinggir jalan hingga kedalam hutan juga ikut menyerukan hal yang sama. Program dari pemerintah dan non pemerintah untuk kelestarian lingkungan hidup juga dilakukan dimana-mana. Bahkan ide-ide cemerlang menyelamatkan lingkungan dengan mensejahterakan masyarakat yang bermukim dipinggir-pinggir hutan juga sudah kerap kali kita baca di media sosial baik itu cetak atau online yang dilontarkan pimpinan daerah atau dinas-dinas pemerintah yang membidangi bagian lingkungan, tokoh masyarakat atau aktivis-aktivis lingkungan. Dan itu komitmen mereka untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Tapi pemandangan pada hari sabtu 22 November 2014 yang terlihat disalah satu bagian hutan wilayah pidie membuat aku yakin ide atau program-program yang pernah aku baca dan dengar tentang penyelamatan lingkungan hidup terutama hutan belum dan tidak terealiasi. Dari pinggir sungai yang mengalir antara bebukitan aku menatap keatas bukit-bukit yang hampir rata-rata terlihat lapang luas bak lapangan bola kaki. Jauh berbeda pemandangan saat aku mendaki kesini lima tahun lalu. Hutan yang masih lebat dan cuaca yang tidak sepanas sekarang terasa sangat mencolok perbedaannya.

Aku berjalan memanggul cariel menyusuri jalan yang sudah rapi diberi kerikil dan batu-batu yang sudah bisa dilewati kendaraan roda empat membelah hutan daerah itu, konon kabarnya jalan itu tembus sampai ke wilayah Jantho. Tidak jarang tumpukan kayu yang sudah berbentuk papan-papan tebal aku jumpai dipinggir jalan itu dan aku abadikan dengan camera saku yang selalu aku bawa saat pendakian. Setengah jam berjalan aku berpapasan dengan  sebuah mobil truck kecil penuh muatan kayu yang terperesok kepinggir jalan. “Hoe dek?” tanya supir yang sedang menstarter mobilnya, “Neuk jak ie rhoeut pak” aku menjawabnya sambil melebarkan senyuman. “tulong bantu ureung nyoe siat ka tulak moto jeut?” dengan mimik lelah dia meminta bantuan pada ku, sambil menurunkan cariel dipunggung aku menjawab “jeut pak”.



Lima menit mobil yang kami dorong ramai-ramai bisa kembali kebahu jalan. Sambil tersenyum sopir yang tadi meminta bantuan mengucapkan terimakasih padaku. “pak neubi rukok sibak, nyoe rukok kabeh ka beuklam lam gleenyan” ku coba buka pembicaraan dengan bapak sopir itu. disodorkan sebatang rokok berfilter “jeut, nyoepat pakek aju dek” jawab dia ramah. “jioh that neuangkot kayee lagoe pak?” tanya ku pada dia sambil menyulut rokok yang ku minta tadi, “pane na jioh, sinan bak krueng dikeu lon cok dek” sambil telunjuknya mengarah ke jalan yang menurun di depanku, “lah kana jalan batee lawetnyoe, nye baroeken sit meu ate ta angkot han dek” tambah dia lagi. Setelah menambah obrolan basa-basi sedikt, aku pamit jalan meneruskan perjalananku menuju air terjun kecil yang menjadi tujuanku saat itu.

Kembali aku menyusuri jalan dihutan itu yang kadang harus memotong arus sungai. Hingga aku berhenti saat bertemu dengan air terjun tujuan aku. Ku keluarkan buku saku dan pulpen dari tas kecil dan ku catat beberapa pemikiran yang keluar dari di otak aku sebagai jawaban dari pertanyaan  untuk pernyataan-pernyataan mereka yang pandai bicara yang pernah aku baca dan aku dengar biasanya diberita-berita perayaan hari lingkungan hidup.

“Program dan ide menyelamatkan lingkungan yang kerap menghiasi perayaan hari lingkungan hidup sedunia hanya sebatas simbolis saja. Pemerintah dengan atau tidak sengaja telah menyediakan fasilitas dan  mempermudah akses pembalakan liar dengan membuka jalan yang menghabiskan dana daerah atau negara beratus juta di tengah hutan yang secara kasat mata tidak ada manfaat bagi masyarakat umum kecuali untuk mengerogoti hutan-hutan yang dulunya lebat. Dan mereka tidak komit dengan ucapan mereka sendiri yang ingin menyelamatkan lingkungan.”  Sedikit pemikiran kotor untuk pemerintah ku tuangkan dibuku kecil ku tadi. Bukannya tidak percaya pada pemerintah tapi itulah yang terpikirkan saat aku melihat kenyataan dilapangan.

Nov 17, 2014

Mapala JE kembali Menggelar DIKSAR VII

November 17, 2014
UKM Mahasiswa Pecinta Alam Jabal Everest Universitas Jabal Ghafur-Sigli yang lebih dikenal dengan MAPALA JE Kembali menggelar Pendidikan Dasar (DIKSAR) untuk perekrutan anggota baru. Sejak berdirinya tahun 2006 silam UKM Pecinta Alam Jabal Everest sudah melahirkan enam angkatan melalui Diksar. Ini adalah acara tahunan yang wajib di gelar oleh UKM ini untuk menampung minat dan bakat mahasiswa Universitas Jabal Ghafur-Sigli dibidang petualangan dan olahraga alam bebas. Diksar tahun ini yang diangkat tema “Lahirkan Mahasiswa Berani Untuk Hidup Lebih Beretika”  adalah untuk melahirkan angkatan ke-VII dan akan dilaksanakan selama delapan hari terhitung dari tanggal 17 s.d 24 November 2014 bertempat di Keumala Dalam, Kabupaten Pidie.


DIKSAR MAPALA Jabal Everest ke-VII tersebut diikuti oleh tiga calon anggota yang lulus tahap Pra Diksar. Ketiga peserta masing-masing berasal dari fakultas Pertanian jurusan peternakan dan dua lainya berasal dari Jurusan Ilmu Hukum Universitas Jabal Ghafur. Sebelum mengikuti DIKSAR yang akan langsung  terjun lapangan, ketiga peserta ini terlebih dahulu dibekali dengan teori-teori ilmu yang dibutuhkannya oleh anggota Mapala JE yang sudah duluan mengerti tentang dunia petualangan alam bebas .

“Seorang Pecinta alam bukanlah hanya sekedar berjiwa petualangan alam bebas melainkan siap menghadapi berbagai keadaan untuk bisa mengabdi diri kepada masyarakat dibidang lingkungan hidup atau lainnya yang bertujuan untuk kelestarian alam dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam ataupun ketika harus ikut andil dalam membantu penanganan bencana alam dengan ilmu-ilmu yang sudah dibekali oleh organisasi ini sendiri. Seyogyanya DIKSAR yang dilaksanakan setiap tahunnya juga  bertujuan untuk melahirkan kader atau generasi yang akan menjalankan roda organisasi UKM-Pecinta Alam JE itu sendiri dan juga membentuk moral, mental dan fisik yang di butuhkan sebagai seorang Pecinta Alam” tutur Bukhari sebagai ketua panitia Pendidikan Dasar JE ke VII tahun 2014.

Kegiatan DIKSAR VII UKM-Mapala JE ini di dukung sepenuhnya oleh birokrasi Unigha sendiri. Dan khusus untuk tahun 2014, MAPALA Jabal Everest juga didukung langsung oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Pidie, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pidie dan juga oleh Radio Meghaphone Sigli 106,5 FM.

Ismunandar yang menjabat sebagai Ketua umum Mapala Jabal Everest tahun 2014/2015 mengucapkan terimakasih kepada Birokrasi Unigha sendiri dan juga instansi pemerintah dan swasta yang sudah mendukung sepenuhnya kegiatan ini hingga bisa berjalan dengan lancar sampai dengan selesai nantinya. "Semoga dukungan ini bisa melahirkan generasi Pecinta Alam yang benar-benar peduli dengan keadaan lingkungan Pidie khususnya" tambah ketua umum di sela-sela kata sambutannya dalam acara seremonial pelepasan peserta DIKSAR VII Mapala JE tadi siang didepan kantor Mapala itu sendiri.

SAMA

November 17, 2014
hari ini,besok
tetap sama tak berbeda
matahari terbit menerangi bumi
bulan muncul menggantikan matahari

kecuali hujan
yang kadang turun membahasahi bumi
mengimbangi tandusnya dunia
mengaliri celah bumi
bersebab banjir
kadang

disini, disana
tetap sama tak berbeda
kota dan hutan menghiasi bumi
riuh suara menggantikan diamnya keadaan

kecuali aku, kalian
yang berani buat hal beda dan membedakan
melihat dunia dari sisi lain
bersebab menghancurkan
kadang

tapi
tetap sama tak berbeda
kecuali
tujuan langkah masing-masing


Nov 15, 2014

PAKSAAN BATIN SANG PENULIS

November 15, 2014
Berjam-jam aku duduk ditemani kopi pancung, ku coba putar otak untuk berpikir 'ide apa yang harus ku tuang? Apa yang harus aku ceritakan tentang kejadian hari ini? Apa yang harus ku tulis?' begitu banyak pertanyaan yang timbul dari keinginan  menulis aku.

Ku coba ceritakan lewat tulisan tentang rasa kepada seorang wanita tapi itu hanya bertahan sebait saja setelah itu kembali ku hapus, 'ah tidak terlalu berlebihankah mengumbar tentang hati ditempat umum' hatiku ikut bertanya tentang tulisan cinta-cintaan itu. Mulai ku otak-atik lagi mesin pencarian dilaptop yang terhubung dengan wi-fi dan ku kunjungi blog-blog mereka yang sudah duluan menjadi penulis handal, dua jam lebih aku mencari inspirasi untuk bisa aku tuangkan disini, tapi hasilnya tetap nihil.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/11/paksaan-batin-sang-penulis.html

Rasanya mulai suntuk sendiri, ku biarkan laptop duduk manis diatas meja tanpa ku sentuh keyboardnya. Ku cabut sebatang rokok kretek dari bungkusannya yang dari tadi menganggur, ku sulut sambil menghisap pelan dan ku hembuskan asapnya dengan keras, seakan-akan sedang membuang keinginan batinku untuk menulis malam ini, sambil kuletakkan dua kaki ditempat duduk dan dengan gaya menyandarkan badan pada lutut yang sudah tepat sejajar dengan dada kemudian ku seruput kopi  yang telah dihidang oleh pelayan warung sejak sore tadi, dengan berpura-pura sedang tidak berpikir apa-apa, aku mencoba membuat keadaan santai sesantainya


Tiga puluh menit berlalu, tapi keadaan tetap tidak bisa membuat aku tenang 'aku harus menulis,' batinku berbisik sendiri. Kuraih laptop dengan berharap ada sesuatu yang bisa ku tulis, jari tanganku kembali menari tanpa tujuan di atas keyboard, namun hasilnya tidak berubah sedikitpun.
Dalam Kebuntuan yang benar-benar menghinggapi imajinasi liar ku malam ini, aku berpendapat: "ternyata menulis bukan sekedar tentang keinginan yang menggebu-gebu tapi butuh kesabaran yang lebih untuk melahirkannya,” dan aku sadar “aku bukan seorang penulis tapi aku hanya sedang belajar menulis untuk jadi seorang penulis.”


Sambil membalas pesan yang baru saja masuk ke telpon genggamku dari seorang gadis manis yang sedari tadi setia menemaniku mencari inspirasi menulis, ku seruput kopi yang tinggal sedikit lagi dalam-dalam penuh nikmat  dengan rasa puas  dari 'kejenuhan dalam menulis,' sembari  menebar senyuman sok-sok manis kesekeliling, dan aku menutup tulisan yang tidak seberapa mana ini.

Nov 14, 2014

IMAJINASI DALAM RASA

November 14, 2014
kamu duduk di warung kopi tempat aku biasa nongkrong sambil mencurahkan inspirasi yang tidak penting untuk aku gambarkan lewat tulisan, aku tidak tahu entah keberanian darimana menghinggapi otak kiri ku hingga berani “ucap janji” pada mu untuk ngopi bareng sore itu. Yang terfikirkan oleh ku hanya ingin duduk dekat dengan mu dan bercerita tentang kisah-kisah hidup sebelum kita berkenalan beberapa minggu yang lalu lewat media sosial.

Aku diam-diam memperhatikan senyummu saat kau duduk didepan ku sambil mengaduk kopi yang gulanya sudah larut dari tadi. “Kamu cantik, manis dan menyenangkan, ”Itu yang tergambar di otak ku dari penglihatan dan rasa nyamannya hati ku sore ini bersamamu. Aku tidak bisa menolak “aku suka sama kamu,” itu sangat jelas terlihat dari sikapku saat berada didekat mu, walau aku menutupinya dengan tertawa lepas , terus berbicara dan mencoba menceritakan pada mu hal-hal yang sama sekali tidak lucu tapi seakan-akan  ceritanya begitu lucu.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/11/imajinasi-dalam-rasa.html

Tidak terasa satu jam kita menghabiskan secangkir kopi yang ukuran gelasnya hanya setelunjuk jari orang dewasa, waktu yang lama untuk orang yang baru berkenalan tapi terasa hanya sebentar bagi aku yang aku duga “sedang kasmaran” diawal-awal perkenalan kita. Dan kemudian kamu meminta izin untuk meninggalkan aku sendiri diwarung kopi itu hingga memaksa aku harus berimajinasi seakan-akan kamu masih disini menemani ku ngopi.

Aku berujar dalam hati bak seorang pelayan tamu hotel: “terimakasih, kamu sudah singgah disini walau hanya sebentar, dan itu membuat aku senang.”
Adbox