Adbox

Aug 31, 2015

Dari Mendaki Seulawah Hingga Menemukan Arti Kehidupan

August 31, 2015
Pernah ke Aceh? Ia atau tidak jawaban nya aku kira rata-rata yang mengaku dirinya “pendaki atau istilah kerennya Mountaineer” pasti sudah tahu yang nama nya Seulawah!

Ya,Seulawah itu bukan nama pesawat terbang atau nama pria berperawakan seram  tapi sebuah gunung dengan ketinggian 1800 Meter diatas permukaan laut (Mdpl) di Provinsi Aceh. Mungkin jika kamu belum pernah mendakinya akan mengira biasa saja dengan ketinggian 1800 Mdpl.

Jul 11, 2015

Pecinta Alam

July 11, 2015
Kamu menyandang status sebagai Mahasiswa/siswa Pecinta Alam? Berbanggalah, karena kamu pernah melewati proses penddididikan yang tidak bisa dibilang mudah. tidak semua orang mampu bahkan belum tentu mau mengikuti proses tersebut.

Mungkin orang berpendapat: Apa susahnya hanya menjadi seorang Pecinta Alam. Modal mendaftar diri di organisasi-organisasi pecinta alam yang sudah tersebar hampir semua kampus bahkan sekolah-sekolah di Indonesia. Kemudian ikut proses pendidikannya. Beberapa orang berpikir Mahasiswa Pecinta Alam itu adalah segerombolan ‘serdadu’ mahasiswa/siswa yang hanya punya hobi mendaki gunung, arung jeram, menelusuri gua ataupun panjat tebing. Memang tidak sepenuhnya salah pemikiran itu.

Feb 8, 2015

MENDAPAT HIKMAH DALAM NIKMAT

February 08, 2015
Terlihat empat pemuda duduk bersantai disebuah balai dekat kaki punggungan sebuah gunung, seorang diantaranya dengan mengernyit dahi dan matanya dengan serius memandang kearah punggungan gunung didepannya  yang diselimuti hutan yang terlihat lebat, Sambil menghirup kopi yang masih terlihat panas dia menyela memecah kesunyian “berapa hari kita akan tembus ke ujung sungai di balik pegunungan itu?” tanyanya pelan sambil menghembuskan kepulan rokok kreteknya, anak muda disampingnya dengan tertawa ceria menjawab dalam candanya “gak usah serius men, tembus gak tembus, tiga hari kita harus kelar dari sini, karena persiapan logistik kita pas untuk segitu.”

Hari mulai beranjak gelap, sudah tidak terlihat lagi sinar matahari, yang menerangi sekitar mereka kecuali hanya suara terjangan hujan yang jatuh di atap rumbia balai tempat mereka berteduh. Empat pemuda tersebut mulai membongkar cariel masing-masing untuk mengeluarkan perbekalan pendakian yang sudah mereka siapkan, kemudian mereka disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang menyalakan api sebagai penerangan dan yang lain juga tampak bersemangat memasak menu yang sudah disiapkan untuk santapan malam ini. Jam menunjukkan pukul 19:00 wib, hidangan malam dari nasi, telur goreng, sop kentang dan kerupuk tepung sudah terisi di piring empat pendaki muda yang masih berstatus mahasiswa salah satu perguruan tinggi, tanpa harus dikomandoi empat piring sudah bersih dari isinya dilahap oleh pemiliknya masing-masing. “kita besok bangun jam 07:00 dan berangkat mendaki  jam 08:00 wib, urusan istirahat malam ini, terserah kita mau tidur jam berapa, gimana?” tanya salah satu dari mereka, “ok, gampang itu” jawab serempak tiga lainnya.  Setelah itu terdengar lelucon-lelucon diselingin sesekali tawa akrab dari mereka serentak, yang menyatakan empat pendaki muda itu sudah sangat akrab satu sama lain. Tidak terasa mereka asik bercengkrama ria mengisi malam yang lebih gelap dari malam-malam mereka sebelumnya, hentakan hujan di bumi sudah tidak terdengar dan jam sudah mengarah pada angka 12 yang menandakan waktu sudah tengah malam.

“Aku tidur duluan,” sambil menguap salah satu dari mereka meminta izin membaringkan tubuh di matras yang di gelar dilantai balai tempat mereka berteduh dari hujan sejak sore tadi. Dan selanjutnya satu persatu dari tiga pemuda lainnya juga mulai membaringkan tubuh untuk mengambil waktu isitirahatnya.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2015/02/hikmah-dalam-nikmat.html

Matahari yang belum terlihat jelas dimana letaknya mulai menerangi bumi, pertanda pagi sudah datang. suara ketukan sendok dan piring mengiringi pagi para pendaki yang sedang sarapan. Jam sudah menunjukan pukul 07:55 wib, semua perlengkapan yang dibongkar semalam dari cariel sudah tertata kembali dengan rapi dicariel masing-masing para pendaki. Tepat jam 08:00, cariel-cariel mereka sudah berada di pundak mereka, “untuk keselamatan dari awal hingga akhir perdakian kita mari kita berdoa dalam hati masing-masing, Al-fatihah,”  salah seorang dari mereka yang dijadikan ketua team pendakian kali ini memimpin awal perjalanan.

Secara beriringan para pendaki itu mulai menapaki punggungan gunung yang menjadi target pendakian mereka, sesekali orang paling depan dari mereka yang disebut leader mengayunkan parang untuk membersihkan jalur dari semak-semak bekas kebun masyarakat supaya bisa dilewati. Tidak jarang juga navigator si pemegang kompas yang berjalan ditengah-tengah barisan menunjukkan arah untuk mengarahkan sipembuka jalur.

“Saatnya rest” ujar pendaki berkulit hitam yang menjadi ketua team pendakian,sambil melirik jamnya yang sudah menunjukkan pukul 12:05 wib. Keringat terlihat mulai membasahi tubuh para pendaki yang duduk tak beraturan mengelilingi dua gelas kopi yang baru saja dimasak dengan alat masak khusus digunung, “wak, kita sedikit buru waktu setelah ini karena jalur pendakian kita masih panjang, pokoknya kita usahakan basecamp kita malam nanti harus sampai di countur ini,” ujar sang navigator sambil telunjuknya menyentuh countur yang menandakan landai dipeta. “gimana,siap?” tanyanya lagi. “ok” jawab leader dengan pasti.

Satu persatu cariel kembali diangkat ke bahu masing-masing, jam 13:30 wib, perjalanan kembali dilanjutkan, sesuai arahan sang navigator, dengan sigap pemuda yang bertugas sebagai leader dari awal pendakian mulai menerobos ilalang yang menyelimuti punggungan gunung, tanpa terasa hari terlihat sudah agak gelap, jam menunjukkan pukul 17:10. “Ok, sesuai target kita buka camp disini malam ini,” si ketua team menghentikan langkah para pendaki.

Seperti biasa pendakian, personil team mulai mengurus tugasnya masing-masing sesuai kesepakatan perencanaan sebelum pendakian, mencari kayu bakar, memasak dan mendirikan tenda terselesaikan dengan baik berkat saling menjaga tugas masing-masing dan kerjasama team yang apik. Waktu sudah menginjak malam hari, team sudah menunai hak perutnya masing-masing tanpa arahan siapapun, satu persatu personil team masuk ketenda dan meninggalkan api kecil yang menjilat-jilat dinginnya udara malam didepan tenda tempat merek bercengkrama sejak tadi.

Pagi kembali menyapa para pendaki, sinar matahari pagi mengusap tenda dan para pendaki sudah siap berangkat setelah sebelumnya mengecek semua perlengkapan dan membereskan tempat peristirahatan semalam. Di awali dengan doa bersama para pendaki mulai menapaki countur ke countur menerobos hutan. Dalam perjalanan acap kali pendaki menemukan alur-alur kecil yang jernih melewati lekukan lembah, tanpa menyentuhpun pendaki sudah bisa merasakan kesegaran dari jernihnya aliran air alur itu. “Allah maha besar, tanpa sungai yang besar air ini mengalir jernih diantara rimbunnya hutan menemani kehidupan satwa-satwa disini” ujar sang ketua team sambil berjalan, “sungguh Allah maha adil dan bijaksana,” tambahnya pelan tanpa melihat kearah siapapun sebagai lawan bicara. Matahari terlihat sudah merangkak diatas ubun-ubun, pertanda waktu sudah tengah hari, para pendaki sudah duduk beristirahat diantara pepohonan yang lebat menikmati kopi dan snack roti seadanya.

Perjalanan kembali dilanjutkan, jarum jam sudah menunjukkan pada arah pukul 13:30 wib. Dengan pasti langkah-langkah pendaki menyusuri medan yang terlihat agak menurun dan sesekali tangan pendaki harus berpegangan kuat pada batang-batang pohon kecil untuk menyeimbangkan tubuhnya saat melewati medan yang agak curam. Tujuan hampir sampai, air terjun dengan aliran deras dan segar mulai terbayang-bayang di mata pendaki. Tepat pukul 16:17 wib, bayangan yang dari tadi mengintai otak kiri kanan para pendaki menjadi nyata di depan mata, suara air yang jatuh terdengar bagai irama yang membuat rasa lelah para pendaki seketika hilang, tanpa ajak-mengajak dan tanpa kompromi mereka para pendaki langsung merendam tubuhnya yang dari tadi dipenuhi keringat bagai air garam menyiram tubuh.

Puas bermain dengan kesegaran, pendaki menjemur diri di batu-batu besar di dekat sungai yang menjelma bagai surga bagi mereka, seseorang dari mereka menyela diantara suara air yang jatuh menimpa bebatuan “hidup memang begini, bukan keinginan yang harus di paksakan tapi mensyukuri kebutuhan yang terpenuhi” ujarnya dengan tersenyum, “dari kemarin kita tidak bisa memakan apa yang kita inginkan kecuali hanya terbatas perbekalan yang ada, kita tidak bisa berjalan arah sesuka hati tapi arah yang sudah ditentukan baru kita bisa menemukan keindahan ini untuk kita nikmati” tambahnya lagi. “ya benar memang, kenapa masih ada orang didunia yang kadang terkesan susah hidupnya dengan segala kebutuhan yang terpenuhi, mungkin mereka terlalu mengejar keinginan tanpa mensyukuri kebutuhan yang telah Allah berikan pada dia, dari perjalanan kali ini aku bisa mengambil hikmah untuk perjalanan hidup ku” ketua team menyambung pembicaran tadi “yakin berusaha dan mensyukuri hasil dari usaha adalah cara menikmati hidup ini,” pungkas ketua team.

Matahari terlihat menyeret cahayanya dicelah-celah puncak gunung arah barat dari basecamp tempat para pendaki muda itu berteduh dari belaian dinginnya suasana di pinggir sungai diantara punggung pegunungan yang menghimpit, malam mulai menyapa pendaki, gemericik suara air dan sinar rembulan yang malu-malu menemani senyuman pendaki malam itu yang terlihat puas dengan pencapaian sesuai target pendakian kali ini, dibarengi nikmat dan hikmah yang bisa mereka rasakan, usaha yang lelah terbayar sudah dengan segala keindahan didepan mata mereka.

Dec 28, 2014

Jangan Tunggu Waktu Untuk Jelajah Bumi Aceh

December 28, 2014
Kamu seorang wisatawan atau istilah kerennya traveler? Sudah menginjak bumi Aceh belum? Jika kalian sudah pernah “syukurlah,” mudah-mudahan kalian berpendapat Aceh menjadi tempat yang ramah dan puas untuk dijelajahi. Tapi jika belum pernah dan berkeinginan menjelajahinya, aku berani berkata “bumi Aceh pantas untuk kalian tulis di deretan nama-nama tempat yang ingin kalian tapaki.” Selain panorama alam yang bisa memanjakan mata traveler, Aceh juga menyajikan wisata kuliner dan budayanya yang masih sangat kental.

Kebanyakan para traveler dominan memilih pantai-pantai di Aceh, seperti Sabang, Lhok Nga, Lampu’uk. Itu cuma beberapa contoh pantai yang banyak di kunjungi traveler dan masih banyak pantai-pantai lain yang juga menjadi pilihan wisatawan ke Aceh. Memang tidak diragukan keindahan pantai-pantai Aceh. Pesona bawah laut yang sangat beragam membuat wisatawan  berdecak kagum, itu terbukti dari wisatawan lokal dari Indonesia sendiri dan juga dari mancanegara yang betah untuk liburan dipantai Aceh. Tidak kalah keren juga diatas permukaan laut yang menyajikan berbagai kekaguman. Apalagi setelah musibah tsunami menerjang Aceh, Surving juga telah menjadi olahraga yang trend di pantai Lhok ‘nga untuk menikmati ombak yang mengalun berirama di hamparan laut.

Tapi aku disini sebagai manusia yang hobi mendaki gunung menyarankan kepada traveler untuk tidak mengabaikan pesona Gunung-gunung disini. Keindahan dan keberagaman ekosistem dibelantara hutan Aceh tidak kalah dari laut. Bahkan pegunungan dan hutan Aceh menjadi objek penelitian ilmuan-ilmuan muda dari berbagai penjuru dunia.  “Menikmati pesona dari atas ke bawah lebih puas dibandingkan dari bawah ke atas” begitulah prinsipku sebagai seorang pendaki yang amatiran. Mata akan biasa saja saat melihat gunung dari pantai, tapi jika kamu melihat pantai dari ketinggian puncak-puncak gunung “wow amazing” begitulah lebih kurang yang akan terjadi ekspresinya.

Memilih pegunungan Aceh seperti Leuser, Burni Telong, Klieten, Seulawah Agam, Glee Raja tidak akan membuat suasana traveler anda kecewa. Itu beberapa gunung yang bisa aku sebutkan disini, masih banyak gunung-gunung lainnya yang berjejeran di Aceh untuk anda nikmati.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id

Pesan dari aku, apapun pilihan tempat kita berwisata ikutilah aturan budaya dan adat serta hukum yang berlaku didaerah tujuan wisata. Tetap jaga kelestarian alam dengan tidak membuat tempat tujuan anda cacat oleh ulah kita manusia, hal yang paling kecil adalah jangan pernah buang sampah sembarangan baik itu di laut, gunung, hutan, sumber air, walaupun disekitar-kita penuh sampah, buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan. Alam sebagai tempat tinggal seluruh makhluk hidup jangan hancur hanya untuk kita menikmatinya. Biasakan yang benar dan jangan benarkan yang biasa.

Dec 16, 2014

Jaga Lingkungan dan Alam sekitar Mulai Sekarang

December 16, 2014
Bencana alam yang akhir-akhir ini meneror bumi Indonesia telah menimbulkan keresahan hati masyarakat Indonesia, simiskin,fakir bahkan sikaya-raya pun tak luput dari perasaan takut. Yang tinggal di pinggiran gunung takut akan longsor, dan yang tinggal di tengah-tengah kotapun takut akan banjir yang melanda. Apalagi beberapa hari yang lalu ditanah Jawa telah terjadi longsor yang memakan korban tidak sedikit.

Saat bencana disorot oleh media dan dipertanyakan penyebab bencana alam, pemerintah dan masyarakat juga selalu saling menuding sebab terjadinya bencana. Pemerintah mengatakan “masyarakat tidak mengindah peringatan pemerintah tentang akibat ini-itu hingga terjadi bencana alam.” Sedangkan masyarakat mengatakan “ kurangnya perhatian dan kontribusi pemerintah untuk memprogramkan peminimalisir terjadinya bencana alam.” Setelah sekian banyak bencana yang melanda bumi indonesia. Sadar atau tidak, pemerintah dan masyarakat kita hanya kebakaran jenggot saat dan setelah beberapa hari atau bulan bencana melanda. Sibuk menanam pohon di bukit-bukit dan tanah yang sudah gundul dan membersihkan sampah-sampah disungai, tapi setelah itu kembali kita mengabaikan dan lupa apa yang harus kita lakukan untuk meminimalisir dan mencegah bencana itu terulang kembali.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/12/jaga-lingkungan-dan-alam-sekitar-mulai.html

Perlu kita sadari saling menuding dan menyalahkan tidak akan pernah mengakhiri dan menjauhkan kita dari bencana alam yang memporak-porandakan negeri ini. Hanya akan memperlambat kesadaran untuk menjaga lingkungan kita sendiri. Pernahkah kita menanyakan pada hati kita masing-masing. Tanggung jawab siapa lingkungan ini? Siapa yang merasa dampak baik dan buruknya dari keadaan lingkungan sekitar kita? Aku yakin semua jawaban yang kita temukan “bukan pemerintah atau masyarakat” tapi “kita.” Nah, dari jawaban hati kita masing-masing, masihkah kita berharap pemerintah atau masyarakat yang akan menjaga lingkungan ini?

Menebang pohon secara liar, membuang sampah sembarangan, membuka area perkebunan secara membabi buta hingga tiada lagi hutan penghasil oksigen untuk manusia, pembangunan dengan alasan memajukan ekonomi  secara berlebihan hingga harus mengorbankan pepohonan-pepohonan yang menjadi penyangga air dan megabaikan kebutuhan rakyat kelas bawah adalah beberapa sebab yang akan mengakibatkan bencana alam. jika menanyakan kepada masyarakat “kenapa menebang pohon,membuka perkebunan secara liar,membuang sampah sembarangan?” jawabannya tidak kita sangsikan lagi “tidak ada pilihan lain mencari nafkah untuk menghidupi keluarga atau itu satu-satunya lapangan kerja yang bisa  didapatkan.” Ya, itu jawaban yang sangat sering terlontar dari masyarakat atau pemerintah. Tidak bisa kita salahkan untuk menunaikan keharusan manusia menyamankan perut demi menyambung hidup. Itu kebutuhan yang tidak bisa kita hindarkan. Tapi menjaga lingkungan sebagai kewajiban tidak bisa banding-bandingkan dengan kebutuhan. Karena kebutuhan manusia selalu tidak akan cukup dan puas.

Sebenrnya lingkungan tidak memerlukan program-program khusus untuk kelestariannya. Lingkungan juga tidak butuh perawatan khusus seperti perawatan wajah-wajah artis nasional atau dunia untuk menjadi indah dan aman untuk kita lihat dan kita huni. Kita hanya perlu menjaga lingkungan kita seperti apa adanya untuk mencegah bencana alam. Mengurangi penghasilan sampah yang tidak terurai seperti plastik, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pepohonan sembarangan yang menjadi penyangga air. apakah kita sebagai penikmat segala yang ada dilingkungan ini sulit melakukannya? Anak kecil juga mampu melakukan hal seperti itu, generasi sebelumnya dan nenek moyang kita mampu menjaganya, kenapa kita tidak.

Pemerintah juga harus siap mendidik masyarakatnya dari sejak dini dengan ilmu-ilmu pengetahuan baik alam dan sosial hingga melahirkan masyarakat yang kreatif dalam mengurus urusan perut dan kebutuhan tanpa harus merusak lingkungan lagi. Pemerintah harus mampu membuka lapangan kerja yang lebih layak bagi rakyatnya. Memang bukan hal mudah seperti membalikkan telapak tangan bagi pemerintah, tapi bukankah itu merupakan bagian dari tugasnya dalam mengelola birokrasi negri?
Belajar dari pengalaman bencana alam yang sudah kita alami.  Pemerintah dan masyarakat jangan lagi kecolongan dengan bencana alam. Ubah perilaku hidup, kepentingan politik, ekonomi yang merusak lingkungan. Mari kita lestarikan alam dengan kesadaran kewajiban dan kepentingan individual. Bukan aku, kamu dan dia atau mereka, tapi untuk kita sendiri.

Pembangunan dan investasi memang perlu untuk memajukan ekonomi sebuah negara tapi jangan membuat pembangunan dan investasi mengabaikan lingkungan dan kebutuhan rakyat kelas bawah. Seimbangkan antara pembangunan-pembangunan, mensejahteraan masyarakat terutama kelas bawah, pendidikan yang memadai dan lapangan kerja yang cukup serta pelestarian lingkungan sekitar kita. Pemerintah dan masyarakat saling mendukung untuk menjaga lingkungan hingga alam ini tetap lestari, lingkungan terjaga dan masyarakat damai dan jauh dari ancaman bencana alam.


Dec 5, 2014

Sampah Sigli versus Sampah Denmark

December 05, 2014
Saat kita mendengar atau melihat kata “Sampah” secara alamiah kita pasti langsung bisa terbayangkan “kotor, menjijikkan, jorok atau apalah yang serupa dengan kata itu.” Bahkan manusia yang tidak bermoral atau berkelakuan mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat juga disebut sampah masyarakat. Dan disini aku menyimpulkan sampah adalah sesuatu yang sudah tidak digunakan lagi dan dibuang serta bisa menganggu kenyamanan manusia bila tidak dikelola secara baik. Bahkan tempat yang sangat indahpun jika dipenuhi dengan sampah akan sangat tidak enak untuk dilihat apalagi kita jadikan sebagai tempat tinggal untuk menyambung hidup.

Di negara-negara maju sampah sudah dikelola dengan baik. Pemerintah dan masyarakat saling mengerti untuk mengurus sampah. Sampah tidak dianggap sebagai hal yang sepele untuk di urus oleh pemerintah. Jika kamu seorang traveling mungkin kamu akan melihat perbedaan yang sangat jauh kebersihan kota-kota di negara maju dengan kota di indonesia.

Pernah kamu dengar atau singgah di Kopenhagen? Ya, Kopenhagen adalah ibukota Denmark. Kota yang selalu dipadati manusia. Baik itu warga Denmark sendiri ataupun turis atau pengunjung dari berbagai pelosok dunia termasuk indonesia. Walau selalu menjadi lautan manusia, tidak kita temukan tumpukan atau sampah yang berserakan di kota tersebut. Ini jauh berbanding balik dengan keadaan kita Sigli yang dipenuhi tumpukan sampah tengah kota  bahkan dipinggir jalan pun tidak jarang kita melihat tong sampah yang sudah tidak layak pakai dengan sampah yang bertebaran didalam dan sekitarnya. Padahal penghuni Sigli juga manusia seperti di Kopenhagen. Malah jika dijumlahkan, pengunjung manusia di Kopenhagen lebih didominasi jumlahnya dibandingkan sigli.

Apa yang membuat sigli lebih berserakan dibandingkan Kopenhagen? Apakah sigli kota kecil sedangkan Kopenhagen kota besar? Jika kita berpikir secara rasional, bukankah semakin kecil wilayah yang kita urus semakin mudah dalam mengelolanya?

Semalam aku sempat bertukar informasi tentang keadaan lingkungan dengan seorang teman melalui Facebook yang aku panggil kak Cinta. Beliau berasal dari Sigli tapi sekarang menetap di Denmark.  Dan aku berpendapat “Kopenhagen dan Sigli merupakan kota yang sama-sama dihuni oleh manusia.” Yang menjadikan beda antara kebersihan lingkungan Sigli dan Kopenhagen adalah kesadaran penghuninya sendiri dan Perhatian khusus pemerintah untuk menjaga lingkungan kota dari sampah.

“Disini dek, tempat untuk memasukkan barang-barang belanjaan seperti kantong plastik harus berbayar, beda dengan tempat kita di Sigli. Beli satu sikat gigi saja, kita meminta kantong plastik ataupun juga penjualnya dengan ramah menawarkan kantong plastik tempat menaruh barang belanjaan kita. Itu dengan sendirinya bisa kita lihat perbedaan yang sangat mencolok tanpa kita sadari. Di Sigli sampah dihasilkan dengan mudah tanpa biaya tapi di Denmark untuk menghasilkan sampah harus mengeluarkan biaya,” jelas kakak Cinta dengan ramah. “selama kakak disini tidak pernah kakak lihat orang membuang sampah sembarangan tanpa rasa bersalah, Pemerintahpun menyediakan tong sampah yang layak ditempat-tempat keramaian dan tidak pernah kita lihat penuh tong-tong tersebut dari sampah yang dibuang masyarakat apalagi meluap keluar. Pemerintah kota secara berkala mengurusnya,” kak Cinta menambahkan.

Saat aku mencoba menanyakan tentang sampah-sampah yang dihasilkan rumah tangga, kak Cinta juga mengutarakan hal yang sama. “Masyarakat disini sadar tanggung jawab dia sebagai penghasil sampah dan membayar biaya kepada yang mengurus sampah tersebut” dan  kak Cinta juga menambahkan “sebelum diserahkan pada mereka yang mengurus, sampah terlebih dahulu dipilah-pilah menurut jenisnya. Sampah organik dan an-organik tidak dalam satu tempat yang sama, bahkan sampah plastik, kaca, besi juga di masukkan dalam tempat yang berbeda.”

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/12/sampah-sigli-versus-sampah-denmark.html

Di Sigli tidak pernah kita lihat sebegitu teratur masyarakat memperlakukan sampah-sampah yang dihasilkannya hingga diserahkan kepada petugas yang bertugas mengurus sampah tersebut. Keadaan ini menyatakan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan di negara maju lebih tinggi dibandingkan disigli. Dan itu tidak terjadi secara otodidak pada masyarakat, tapi tingginya perhatian pemerintah setempat untuk memberi pengertian kepada masyarakat dalam mengelola lingkungan, baik itu secara peraturan atau lewat pendidikan. Beda dengan di daerah kita, dengan kondisi masyarakat yang masih minim kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan, pemerintahpun terlihat acuh tak acuh dalam mesosialisakannya,bahkan tidak terlihat serius menanggapi pengelolaan sampah-sampah. Itu juga terlihat dari masih banyak tong-tong sampah yang sudah tidak layak pakai masih berjejeran di emperan jalan.


Dengan Kopenhagen bisa menjaga lingkungannya, sigli juga bukan tidak mungkin melakukannya.  Jika masyarakat dan pemerintah mau bertanggung jawab  dalam menjaga lingkungan sekitar dan pengelolaan sampah yang benar serta memberi pendidikan, pengetahuan kepada masyarakat yang serius akan membantu membersihkan lingkungan sigli dari sampah. 

Nov 29, 2014

Cintai Lingkungan Bukan Sekedar Bicara

November 29, 2014
Hampir segenap lapisan masyarakat di Aceh khususnya sudah mengetahui larangan menebang pohon sembarangan di hutan lindung ataupun hutan konservasi. Lagian juga seruan untuk menyelamatkan lingkungan terdengar dimana-mana sekarang. Baik itu berupa pernyataan dari kepala daerah atau dari kepala-kepala dinas di pemerintahan, bahkan sampai spanduk-spanduk dan pamplet dipinggir jalan hingga kedalam hutan juga ikut menyerukan hal yang sama. Program dari pemerintah dan non pemerintah untuk kelestarian lingkungan hidup juga dilakukan dimana-mana. Bahkan ide-ide cemerlang menyelamatkan lingkungan dengan mensejahterakan masyarakat yang bermukim dipinggir-pinggir hutan juga sudah kerap kali kita baca di media sosial baik itu cetak atau online yang dilontarkan pimpinan daerah atau dinas-dinas pemerintah yang membidangi bagian lingkungan, tokoh masyarakat atau aktivis-aktivis lingkungan. Dan itu komitmen mereka untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Tapi pemandangan pada hari sabtu 22 November 2014 yang terlihat disalah satu bagian hutan wilayah pidie membuat aku yakin ide atau program-program yang pernah aku baca dan dengar tentang penyelamatan lingkungan hidup terutama hutan belum dan tidak terealiasi. Dari pinggir sungai yang mengalir antara bebukitan aku menatap keatas bukit-bukit yang hampir rata-rata terlihat lapang luas bak lapangan bola kaki. Jauh berbeda pemandangan saat aku mendaki kesini lima tahun lalu. Hutan yang masih lebat dan cuaca yang tidak sepanas sekarang terasa sangat mencolok perbedaannya.

Aku berjalan memanggul cariel menyusuri jalan yang sudah rapi diberi kerikil dan batu-batu yang sudah bisa dilewati kendaraan roda empat membelah hutan daerah itu, konon kabarnya jalan itu tembus sampai ke wilayah Jantho. Tidak jarang tumpukan kayu yang sudah berbentuk papan-papan tebal aku jumpai dipinggir jalan itu dan aku abadikan dengan camera saku yang selalu aku bawa saat pendakian. Setengah jam berjalan aku berpapasan dengan  sebuah mobil truck kecil penuh muatan kayu yang terperesok kepinggir jalan. “Hoe dek?” tanya supir yang sedang menstarter mobilnya, “Neuk jak ie rhoeut pak” aku menjawabnya sambil melebarkan senyuman. “tulong bantu ureung nyoe siat ka tulak moto jeut?” dengan mimik lelah dia meminta bantuan pada ku, sambil menurunkan cariel dipunggung aku menjawab “jeut pak”.



Lima menit mobil yang kami dorong ramai-ramai bisa kembali kebahu jalan. Sambil tersenyum sopir yang tadi meminta bantuan mengucapkan terimakasih padaku. “pak neubi rukok sibak, nyoe rukok kabeh ka beuklam lam gleenyan” ku coba buka pembicaraan dengan bapak sopir itu. disodorkan sebatang rokok berfilter “jeut, nyoepat pakek aju dek” jawab dia ramah. “jioh that neuangkot kayee lagoe pak?” tanya ku pada dia sambil menyulut rokok yang ku minta tadi, “pane na jioh, sinan bak krueng dikeu lon cok dek” sambil telunjuknya mengarah ke jalan yang menurun di depanku, “lah kana jalan batee lawetnyoe, nye baroeken sit meu ate ta angkot han dek” tambah dia lagi. Setelah menambah obrolan basa-basi sedikt, aku pamit jalan meneruskan perjalananku menuju air terjun kecil yang menjadi tujuanku saat itu.

Kembali aku menyusuri jalan dihutan itu yang kadang harus memotong arus sungai. Hingga aku berhenti saat bertemu dengan air terjun tujuan aku. Ku keluarkan buku saku dan pulpen dari tas kecil dan ku catat beberapa pemikiran yang keluar dari di otak aku sebagai jawaban dari pertanyaan  untuk pernyataan-pernyataan mereka yang pandai bicara yang pernah aku baca dan aku dengar biasanya diberita-berita perayaan hari lingkungan hidup.

“Program dan ide menyelamatkan lingkungan yang kerap menghiasi perayaan hari lingkungan hidup sedunia hanya sebatas simbolis saja. Pemerintah dengan atau tidak sengaja telah menyediakan fasilitas dan  mempermudah akses pembalakan liar dengan membuka jalan yang menghabiskan dana daerah atau negara beratus juta di tengah hutan yang secara kasat mata tidak ada manfaat bagi masyarakat umum kecuali untuk mengerogoti hutan-hutan yang dulunya lebat. Dan mereka tidak komit dengan ucapan mereka sendiri yang ingin menyelamatkan lingkungan.”  Sedikit pemikiran kotor untuk pemerintah ku tuangkan dibuku kecil ku tadi. Bukannya tidak percaya pada pemerintah tapi itulah yang terpikirkan saat aku melihat kenyataan dilapangan.

Nov 17, 2014

Mapala JE kembali Menggelar DIKSAR VII

November 17, 2014
UKM Mahasiswa Pecinta Alam Jabal Everest Universitas Jabal Ghafur-Sigli yang lebih dikenal dengan MAPALA JE Kembali menggelar Pendidikan Dasar (DIKSAR) untuk perekrutan anggota baru. Sejak berdirinya tahun 2006 silam UKM Pecinta Alam Jabal Everest sudah melahirkan enam angkatan melalui Diksar. Ini adalah acara tahunan yang wajib di gelar oleh UKM ini untuk menampung minat dan bakat mahasiswa Universitas Jabal Ghafur-Sigli dibidang petualangan dan olahraga alam bebas. Diksar tahun ini yang diangkat tema “Lahirkan Mahasiswa Berani Untuk Hidup Lebih Beretika”  adalah untuk melahirkan angkatan ke-VII dan akan dilaksanakan selama delapan hari terhitung dari tanggal 17 s.d 24 November 2014 bertempat di Keumala Dalam, Kabupaten Pidie.


DIKSAR MAPALA Jabal Everest ke-VII tersebut diikuti oleh tiga calon anggota yang lulus tahap Pra Diksar. Ketiga peserta masing-masing berasal dari fakultas Pertanian jurusan peternakan dan dua lainya berasal dari Jurusan Ilmu Hukum Universitas Jabal Ghafur. Sebelum mengikuti DIKSAR yang akan langsung  terjun lapangan, ketiga peserta ini terlebih dahulu dibekali dengan teori-teori ilmu yang dibutuhkannya oleh anggota Mapala JE yang sudah duluan mengerti tentang dunia petualangan alam bebas .

“Seorang Pecinta alam bukanlah hanya sekedar berjiwa petualangan alam bebas melainkan siap menghadapi berbagai keadaan untuk bisa mengabdi diri kepada masyarakat dibidang lingkungan hidup atau lainnya yang bertujuan untuk kelestarian alam dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam ataupun ketika harus ikut andil dalam membantu penanganan bencana alam dengan ilmu-ilmu yang sudah dibekali oleh organisasi ini sendiri. Seyogyanya DIKSAR yang dilaksanakan setiap tahunnya juga  bertujuan untuk melahirkan kader atau generasi yang akan menjalankan roda organisasi UKM-Pecinta Alam JE itu sendiri dan juga membentuk moral, mental dan fisik yang di butuhkan sebagai seorang Pecinta Alam” tutur Bukhari sebagai ketua panitia Pendidikan Dasar JE ke VII tahun 2014.

Kegiatan DIKSAR VII UKM-Mapala JE ini di dukung sepenuhnya oleh birokrasi Unigha sendiri. Dan khusus untuk tahun 2014, MAPALA Jabal Everest juga didukung langsung oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Pidie, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pidie dan juga oleh Radio Meghaphone Sigli 106,5 FM.

Ismunandar yang menjabat sebagai Ketua umum Mapala Jabal Everest tahun 2014/2015 mengucapkan terimakasih kepada Birokrasi Unigha sendiri dan juga instansi pemerintah dan swasta yang sudah mendukung sepenuhnya kegiatan ini hingga bisa berjalan dengan lancar sampai dengan selesai nantinya. "Semoga dukungan ini bisa melahirkan generasi Pecinta Alam yang benar-benar peduli dengan keadaan lingkungan Pidie khususnya" tambah ketua umum di sela-sela kata sambutannya dalam acara seremonial pelepasan peserta DIKSAR VII Mapala JE tadi siang didepan kantor Mapala itu sendiri.

SAMA

November 17, 2014
hari ini,besok
tetap sama tak berbeda
matahari terbit menerangi bumi
bulan muncul menggantikan matahari

kecuali hujan
yang kadang turun membahasahi bumi
mengimbangi tandusnya dunia
mengaliri celah bumi
bersebab banjir
kadang

disini, disana
tetap sama tak berbeda
kota dan hutan menghiasi bumi
riuh suara menggantikan diamnya keadaan

kecuali aku, kalian
yang berani buat hal beda dan membedakan
melihat dunia dari sisi lain
bersebab menghancurkan
kadang

tapi
tetap sama tak berbeda
kecuali
tujuan langkah masing-masing


Nov 15, 2014

PAKSAAN BATIN SANG PENULIS

November 15, 2014
Berjam-jam aku duduk ditemani kopi pancung, ku coba putar otak untuk berpikir 'ide apa yang harus ku tuang? Apa yang harus aku ceritakan tentang kejadian hari ini? Apa yang harus ku tulis?' begitu banyak pertanyaan yang timbul dari keinginan  menulis aku.

Ku coba ceritakan lewat tulisan tentang rasa kepada seorang wanita tapi itu hanya bertahan sebait saja setelah itu kembali ku hapus, 'ah tidak terlalu berlebihankah mengumbar tentang hati ditempat umum' hatiku ikut bertanya tentang tulisan cinta-cintaan itu. Mulai ku otak-atik lagi mesin pencarian dilaptop yang terhubung dengan wi-fi dan ku kunjungi blog-blog mereka yang sudah duluan menjadi penulis handal, dua jam lebih aku mencari inspirasi untuk bisa aku tuangkan disini, tapi hasilnya tetap nihil.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/11/paksaan-batin-sang-penulis.html

Rasanya mulai suntuk sendiri, ku biarkan laptop duduk manis diatas meja tanpa ku sentuh keyboardnya. Ku cabut sebatang rokok kretek dari bungkusannya yang dari tadi menganggur, ku sulut sambil menghisap pelan dan ku hembuskan asapnya dengan keras, seakan-akan sedang membuang keinginan batinku untuk menulis malam ini, sambil kuletakkan dua kaki ditempat duduk dan dengan gaya menyandarkan badan pada lutut yang sudah tepat sejajar dengan dada kemudian ku seruput kopi  yang telah dihidang oleh pelayan warung sejak sore tadi, dengan berpura-pura sedang tidak berpikir apa-apa, aku mencoba membuat keadaan santai sesantainya


Tiga puluh menit berlalu, tapi keadaan tetap tidak bisa membuat aku tenang 'aku harus menulis,' batinku berbisik sendiri. Kuraih laptop dengan berharap ada sesuatu yang bisa ku tulis, jari tanganku kembali menari tanpa tujuan di atas keyboard, namun hasilnya tidak berubah sedikitpun.
Dalam Kebuntuan yang benar-benar menghinggapi imajinasi liar ku malam ini, aku berpendapat: "ternyata menulis bukan sekedar tentang keinginan yang menggebu-gebu tapi butuh kesabaran yang lebih untuk melahirkannya,” dan aku sadar “aku bukan seorang penulis tapi aku hanya sedang belajar menulis untuk jadi seorang penulis.”


Sambil membalas pesan yang baru saja masuk ke telpon genggamku dari seorang gadis manis yang sedari tadi setia menemaniku mencari inspirasi menulis, ku seruput kopi yang tinggal sedikit lagi dalam-dalam penuh nikmat  dengan rasa puas  dari 'kejenuhan dalam menulis,' sembari  menebar senyuman sok-sok manis kesekeliling, dan aku menutup tulisan yang tidak seberapa mana ini.

Nov 14, 2014

IMAJINASI DALAM RASA

November 14, 2014
kamu duduk di warung kopi tempat aku biasa nongkrong sambil mencurahkan inspirasi yang tidak penting untuk aku gambarkan lewat tulisan, aku tidak tahu entah keberanian darimana menghinggapi otak kiri ku hingga berani “ucap janji” pada mu untuk ngopi bareng sore itu. Yang terfikirkan oleh ku hanya ingin duduk dekat dengan mu dan bercerita tentang kisah-kisah hidup sebelum kita berkenalan beberapa minggu yang lalu lewat media sosial.

Aku diam-diam memperhatikan senyummu saat kau duduk didepan ku sambil mengaduk kopi yang gulanya sudah larut dari tadi. “Kamu cantik, manis dan menyenangkan, ”Itu yang tergambar di otak ku dari penglihatan dan rasa nyamannya hati ku sore ini bersamamu. Aku tidak bisa menolak “aku suka sama kamu,” itu sangat jelas terlihat dari sikapku saat berada didekat mu, walau aku menutupinya dengan tertawa lepas , terus berbicara dan mencoba menceritakan pada mu hal-hal yang sama sekali tidak lucu tapi seakan-akan  ceritanya begitu lucu.

http://gubukpenulis.blogspot.co.id/2014/11/imajinasi-dalam-rasa.html

Tidak terasa satu jam kita menghabiskan secangkir kopi yang ukuran gelasnya hanya setelunjuk jari orang dewasa, waktu yang lama untuk orang yang baru berkenalan tapi terasa hanya sebentar bagi aku yang aku duga “sedang kasmaran” diawal-awal perkenalan kita. Dan kemudian kamu meminta izin untuk meninggalkan aku sendiri diwarung kopi itu hingga memaksa aku harus berimajinasi seakan-akan kamu masih disini menemani ku ngopi.

Aku berujar dalam hati bak seorang pelayan tamu hotel: “terimakasih, kamu sudah singgah disini walau hanya sebentar, dan itu membuat aku senang.”
Adbox